Sepintas, jika menempatkan diri sebagai kaum Yahudi, dapat dimengerti mengapa mereka begitu gencar dengan gerakan Zionisme yang mereka koarkan. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu: latar belakang kaum Yahudi yang mengenaskan dan loyalitas dalam melaksanakan firman Tuhan.
Dalam Islam, esensi keimanan adalah melakukan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya–meskipun terkadang bertentangan dengan orang kebanyakan. Jika kita menilik apa yang dilakukan kaum Zionis, tidaklah jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh agama lainnya. Sama-sama berpegang teguh untuk melaksanakan apa yang diwahyukan oleh kitab suci. Hal ini justru merupakan bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya
Lalu apa yang membedakan ajaran Yahudi dan Islam? Apa keunggulan Islam dibandingkan Yahudi di mata Tuhan?
Kaum Yahudi, dalam Alquran seringkali disebut Bani Israil, pada awalnya merupakan kaum yang taat kepada Allah. Tetapi karena kesombongan mereka serta sifat etnosentrisme (kebanggaan berlebih terhadap etnis sendiri) yang begitu kuat, mereka membangkang.
Sifat-sifat buruk Yahudi ini banyak disebut dalam beberapa ayat Alquran. Salah satunya tertera dalam Surat Al-Maidah ayat 70-71:
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
Melalui penjelasan ayat tersebut, berbagai Rasul telah sering Allah utus kepada kaum Yahudi. Tetapi setiap rasul datang, seringkali apa yang ia disampaikan, diacuhkan oleh kaum Yahudi. Alasannya sepele, karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Hal ini dapat dilihat melalui kisah Nabi Musa AS. Pada awalnya Bani Israil (kaum Yahudi), bersedia menjadi umat Musa sepenuhnya. Namun ketika Musa mengajak mereka untuk berperang, Bani Israil menjawabnya dengan santai, “Silakan saja berjuang, wahai Nabi! Kami pasti akan kembali menjadi umatmu jika engkau menang!â€Â
Sifat etnosentrisme serta selalu mengikuti hawa nafsu inilah yang menyebabkan kaum Yahudi tidak sudi mengakui kenabian Muhammad SAW–yang notabenenya berasal dari etnis Arab, bukan berasal dari kaum Yahudi–sebagai nabi terakhir pembawa risalah kebenaran di muka bumi.
Padahal sudah tertera dengan jelas dalam Alquran, bahwa agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya agama yang Allah ridhai. Hal ini tercantum dalam surat Al Maidah ayat 3: …pada hari ini telah Aku Sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku Ridhai Islam sebagai agamamu…
Kemurnian Taurat vs. Kemurnian Al-Qur’an
Dari masa ke masa, Taurat mengalami sejumlah perubahan dari segi isi. Perubahan isi tersebut dilakukan oleh para Rabi (pemuka agama Yahudi) berdasarkan situasi terkini pada saat perubahan dilakukan.
Pada masa pengasingan di Babilonia, rezim Raja Nebukhanedzar, bangsa Yahudi (Bani Israel) telah kehilangan jati diri mereka, baik sebagai satu bangsa maupun secara religius. Secara religius, mereka dipaksa mengikuti sistem paganisme (penyembahan banyak dewa).
Melihat hal ini, banyak rabi Yahudi khawatir akan identitas mereka yang monotheis–yang berdasarkan risalah Nabi Musa dalam Taurat. Malangnya, ketika bangsa Babilonia menyerang, risalah ini banyak yang hilang. Tak hanya itu saja, banyak juga rabi Yahudi yang hafal Taurat meninggal karena penyerbuan dan pembunuhan tersebut.
Atas inisiatif rabi yang tersisa, mereka akhirnya menuliskan ulang isi Taurat yang aslinya sudah tercabik-cabik oleh Raja Nebukhanedzar. Hasilnya, Taurat yang ditulis para rabi ini pun jauh dari keasliannya.
Sedangkan kemurnian Alquran berdasarkan janji Allah, tidak sedikit pun ternodai sampai sekarang. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 9: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-qur’an dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya.
Foto: elitechoice.org
Sikap Islam terhadap Yahudi
Kekhilafahan Islam membebaskan penduduknya yang beragama non-Islam untuk melakukan ritual agamanya masing-masing. Tempat peribadatan dan kitab-kitab meraka yang non-Islam, haram hukumnya untuk dirusak sedikitpun. Yang membedakan mereka dengan penduduk yang beragama Islam adalah keharusan membayar dzimmi alias denda. Selain itu, mereka wajib menyumbangkan harta benda mereka untuk kepentingan umat Islam.
Memang tercatat dalam sejarah, pada zaman kesultanan Turki Ottoman di abad ke-18, kaum Yahudi tidak diperlakukan setara dengan kaum Kristen, bahkan dijadikan buruh tani dan pelacur. Tetapi kesultanan Turki Ottoman bukanlah kekhalifahan Islam yang kaffah (total). Hal ini didasari oleh prosesi pewarisan kekuasaan yang tidak dilakukan secara syar’i dan banyaknya terjadi penyimpangan asusila yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Namun pada zaman Rasululluah, ada kisah menarik yang patut dijadikan suri tauladan umat Islam. Diriwayatkan, ketika itu ada seorang Yahudi yang sering sekali melemparkan kotoran binatang ke arah Rasulullah saat beliau keluar dari rumahnya. Perilaku ini tentu saja dimaksudkan untuk menghina sekaligus memancing emosi Rasul. Akan tetapi karena kearifan yang dimilikinya, Rasul tidak marah dan hanya menganggapnya sebagai sebuah kejahilan belaka.
Suatu hari, orang Yahudi tersebut jatuh sakit. Orang pertama yang menjenguknya ketika dia sakit adalah Rasululllah sendiri. Kenyataan ini menyadarkan orang Yahudi tersebut dan akhirnya ia pun memeluk Islam. Kesadaran orang Yahudi tersebut dipicu oleh kearifan Rasulullah yang mencerminkan ketinggian budi pekertinya (akhlaq al-karimah).
Tidak hanya itu saja. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Islam menunjukkan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa mengenal agama. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib mendakwa salah seorang Yahudi dengan tuduhan pencurian atas baju zirahnya.
Ketika ditanya oleh hakim mengenai saksi pencurian tersebut, Ali mengatakan hanya dirinya saja dan istrinya, Fatimah Az-Zahra. Berdasarkan syariat Islam, saksi tersebut ditolak karena dianggap terlalu dekat hubungannya dengan Ali. Karena bukti-bukti yang diminta tidak mencukupi, maka hakim memutuskan untuk membebaskan si Yahudi tersebut. Melihat keadilan hukum Islam, si Yahudi pun mengakui perbuatannya dan menyatakan dirinya masuk Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun seorang kepala negara mendakwa salah seorang rakyatnya dengan tindak kejahatan, maka tetap melalui prosedur persidangan. Jika tidak terbukti, maka dibebaskan. Artinya, seluruh warga negara–siapapun orangnya–sama kedudukannya di depan hukum. Itulah Islam, Rahmatan Lil Alamin.Itulah Islam. Rahmatan Lil Alamin.
Bersambung…
Islam memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan Yahudi. Diantaranya: satu-satunya agama yang diridhai Allah SWT, kemurnian Al-Qur’an yang terjaga sampai akhir zaman, serta sikap umat Islam yang penuh welas kasih dan keadilan terhadap umat beragama lain.
Sebagai orang Islam, apa yang seharusnya kita lakukan untuk membantu saudara se-aqidah kita di Palestina nun jauh di sana? Tunggu dulu. Apakah benar bahwa konflik Israel-Palestina hanya sebatas konflik berdimensikan agama saja?
Baca kelanjutannya dalam Zionisme, Islam, dan Indonesia: Melihat Lebih Dekat Konflik Israel-Palestina (3)

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)



![Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012] Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/05/Asrama-Salman-ITB-50x50.jpg)
![Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012] Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/kelas-tematik-50x50.jpg)


