Sebagai warga Indonesia yang beragama Islam, apa yang seharusnya dilakukan untuk membantu saudara seakidah kita di Palestina nun jauh di sana? Apa yang seharusnya dilakukan untuk menghentikan gerakan Zionisme yang semakin laten bahayanya?
Kita menghargai dan berempati terhadap segala daya upaya yang dilakukan Palestina. Begitu marahnya hati ini melihat nasib orang tak berdosa, begitu tragis adanya.
Apakah kita perlu berteriak dan mengumandangkan kepada PBB, bahkan Israel, agar segera menghentikan aktivitas biadabnya itu dengan jalan damai?
Silakan. Namun, jika berdasarkan ayat Alquran, hal tersebut tampak sia-sia. Mengingat dalam Alquran disebutkan bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang suka mengingkari janji. Hal ini tercantum dalam surat Al-Mumtahanah ayat 9:
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Dalam surat Ali-Imran ayat 151, Allah juga berfirman:
Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
Peperangan dibalas dengan peperangan pula. Perlukah kita terjun ke medan perang di Palestina sana untuk mendukung perjuangan para mujahidin di sana?
Bukan sekedar permasalahan Agama
Foto: notasaocafe.wordpress.com
Konflik Israel-Palestina tidak hanya menyangkut kepentingan agama, tetapi juga kepentingan wilayah dan politis. Kubu-kubu pejuang pembebasan Palestina pun terbukti masih mengalami percekcokan.
Semenjak pendudukan Israel pada tahun 1948, wilayah Palestina terbagi menjadi dua bagian, yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza. Keduanya terpisah oleh wilayah teritorial Israel.
Di Palestina sendiri, ada dua kelompok besar (partai) yang berpengaruh, yaitu Fatah dan Hamas. Keduanya saling bertolak belakang. Dengan kata lain, mereka tidak akur. Ketika pemilu terakhir diselenggarakan di Palestina pada 25 Januari 2006, kelompok Hamas menang telak. Walaupun presiden Palestina yang terpilih pada tahun 2005, Mahmoud Abbas, berasal dari kubu Fatah, tetapi akhirnya parlemen didominasi oleh kader-kader Hamas.
Meskipun begitu, anggota parlemen Hamas ditangkapi dan dipenjara oleh Israel, sehingga parlemen kembali didominasi oleh orang Fatah. Hal ini dilatarbelakangi kejadian pada 29 Juni 2006. Ketika itu, Fatah dan Hamas sama-sama melakukan penyerangan terhadap Israel yang menewaskan 2 orang tentara negara Zionis tersebut. Total pejabat Hamas yang ditangkap adalah 64 orang. Setidaknya sepertiga dari kabinet Hamas ditangkap dan ditahan oleh Israel.
Ketegangan antara Hamas dan Gaza sebenarnya telah memuncak sejak kematian Yasser Arafat, pada tahun 2004. Ditambah lagi kemenangan kubu Hamas dalam menguasai parlemen pada tahun 2006, semakin meningkatkan tensi ketegangan di antara mereka.
Puncaknya, Mahmoud Abbas pada 15 Desember 2006 menyerukan pemilihan umum kembali bagi Palestina. Kubu Hamas tentu saja mempertanyakan maksud dari Abbas ini dan berusaha mempertahankan hak mereka untuk tetap menjabat dengan masa pemerintahan yang penuh. Hamas berpendapat, usaha yang dilakukan Abbas merupakan usaha kudeta dari kubu Fatah yang dinilai sangat tidak demokratis.
Pada tanggal yang sama, konflik antara Hamas dan Fatah memecah di wilayah Tepi Barat. Hal ini ditandai dengan penembakan mobil rally Hamas oleh tentara Palestina. Sekitar 20 orang terluka akibat serangan ini. Baku hantam antara kedua kelompok terus berlanjut, hingga akhirnya tercapailah kesepakatan rekonsiliasi kedua kubu pada 23 Maret 2008 di Yaman, Yordania.
Konflik antara kubu Fatah dan Hamas ini menyebabkan terjadinya pembagian kekuasaan. Tepi Barat dikuasai oleh Fatah dan Jalur Gaza dikuasai oleh Hamas.
Awal tahun 2009, Gaza digempur oleh Israel secara mengenaskan. Mahmoud Abbas sebagai presiden Palestina saat itu bungkam, malah cenderung tidak peduli. Begitu pun mereka yang berada di wilayah Tepi Barat. Hal ini disebabkan wilayah Gaza adalah basis kelompok Hamas, sehingga mereka yang ada di Tepi Barat, dengan senang hati mengizinkan Gaza digempur habis.
Khalid Islambouli Foto: image.absoluteastronomy.com
Tidak hanya perseteruan antara Fatah dan Hamas. Mesir pun turut serta dalam konflik perebutan teritorial ini.
Mengapa Mesir tidak membantu penduduk Jalur Gaza? Ternyata, penduduk Gaza, dalam hal ini adalah Hamas, seorang keturunan Arab yang bernama Khalid Islambouli. Pada tahun 1981, Khalid membunuh presiden Mesir, Anwar Sadat. Dampaknya, Mesir pun seringkali memblokade Jalur Gaza sampai sekarang.
Dengan kata lain, masalah Gaza adalah masalah politik, bukan masalah agama yang melibatkan Islam dan Yahudi. Buktinya, presiden Palestina Mahmoud Abbas dan penduduk tepi barat, memilih untuk tidak mau tahu nasib saudara mereka yang berada di Jalur Gaza. Padahal, Mahmoud Abbas mempunyai hubungan diplomatik dengan berbagai negara di dunia. Seharusnya, jika memang peduli, bisa saja Abbas berteriak ke warga dunia untuk menyelamatkan Jalur Gaza. Ternyata, hal ini tidak terjadi, setidaknya di dua peristiwa terakhir, Pengepungan Jalur Gaza dan Peristiwa Mavi Marmara.
Oleh karena itu, akan sangat sulit bagi warga non-Arab untuk memahami secara jeli serta menerapkan strategi ampuh untuk membebaskan Palestina.
Bersambung…






![Sekolah Pranikah Angkatan 14 [19 Februari 2012] Sekolah Pranikah Angkatan 14 [19 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/poster-SPN-50x50.jpg)


![Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012] Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_4265-50x50.jpg)
