Sudahkah Kita Menghargai Ilmu?

Foto: ttglibrary.wordpress.com

Foto: ttglibrary.wordpress.com

Memiliki pengetahuan dan keahlian adalah sesuatu yang sangat penting. Tapi ini belum tertanam di bawah sadar. Alhasil belum ada motivasi kuat yang berasal dari diri dan antusiasme dalam menuntut ilmu.

Padahal sekarang zamannya knowledge based society, the age of abundant knowledge, abad yang bergelimang dengan pengetahuan. Bahkan produksi pengetahuan lebih cepat ketimbang kemampuan manusia menyerapnya. Siapa yang mampu berada di paling depan dalam menguasai ilmu, akan memiliki nilai tawar tinggi.

Jadi ini sebenarnya adalah masa emas untuk indonesia. Terbayang 20 hingga 25 tahun yang lalu, sebagai dosen dengan gaji yang kecil, “Bagaimana bisa mengikuti perkembangan pengetahuan? Harga buku mahal sekali. Gaji dosen saja tidak cukup untuk membeli text book.”

Nah sekarang kita harus bersyukur dengan hadirnya  the age of internet dan the age of open course. Akses terhadap ilmu pengetahuan, jauh lebih mudah ketimbang 20 tahun yang lalu. Artinya, kita tinggal mengetuk pintu dan memanfaatkan kesempatan hadirnya pengetahuan yang berlimpah ruah dan murah untuk mempersiapkan diri.

Sebenarnya, pekerjaan tersedia banyak bagi mereka yang memiliki kemampuan dan penguasaan ilmu-ilmu terbaru. Dapat dilihat dalam berbagai publikasi, bahwa perusahaan membutuhkan orang-orang dengan penguasaan ilmu dan kemampuan yang spesifik. Dengan penguasaan ilmu, kita dengan sangat cepat bisa menjadi manusia global.

Pertumbuhan ilmu juga cepat, tidak sebanding dengan jumlah orang yang menguasainya. Padahal ilmu dan teknologi-teknologi baru dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar agar bisa menciptakan blue ocean strategy. Suatu strategi berupa menghasilkan produk-produk baru yang unik, sehingga tidak mempunyai pesaing sama sekali. Jadi mereka punya dan dapat mengaplikasikan pengetahuan baru, sehingga tidak memiliki saingan. Nah untuk melakukannya, butuh orang-orang yang cepat dalam menyerap pengetahuan, menguasai, dan mewujudkan ide-ide kreatif berdasarkan pengetahuan tersebut .

Ini kesempatan besar. Apalagi, mengingat ilmu-ilmu baru sekarang mudah diakses melalui internet. Mestinya ini sebuah rahmat. Tidak terbayang 20 tahun lalu, buku-buku mahal, harganya mencapai puluhan dolar. Perlu putar otak untuk mencari tambahan penghasilan agar bisa mengikuti pengetahuan yang terus berkembang tersebut .

Sekarang kita punya imbangan, yaitu akses internet. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita memiliki jarak untuk menggapai sebuah pengetahuan baru.

Ilmu adalah Bangunan

Meskipun informasi berlimpah, masih belum (atau kurang) ada semangat–khususnya pada anak-anak muda–untuk merebut pengetahuan dan menggunakannya sebaik-baiknya. Padahal dengan ilmu, bukan hanya kehidupannya yang akan menjadi lebih baik, melainkan juga masyarakat. Jadi bangsa lain bisa lebih hormat dan kita tidak dianggap sebagai bangsa pengguna atau sebatas operator yang tidak kreatif dan tidak terlibat dalam pengembangan pengetahuan.

Keberanian menerima tantangan kreativitas ini membutuhkan kerja keras, kesungguhan, dan ketekunan. Ini pun harus dilandasi dengan kesadaran bahwa penguasaan terhadap ilmu itu penting. Sayangnya, banyak orang mengaitkan bahwa penguasaan ilmu berkaitan dengan gelar. Padahal banyak orang hebat tidak memiliki gelar formal. Hanya saja mereka memiliki skill dan knowledge yang di atas rata-rata orang kebanyakan.

Pada saat yang sama, banyak orang yang memiliki gelar formal tetapi tidak punya pekerjaan. Melihat masa depannya pun suram. Lalu terbentuk sebuah persepsi, “Ah, ilmu itu ga berguna-berguna amat dalam membangun masa depan.” Jadi, akhirnya belajar hanya sekedar lewat, yang penting selesai dan dapat gelar. Cukup, tidak ada kesadaran bahwa knowledge itu penting dan penguasaannya merupakan proses yang tidak dapat dihindari atau dilompati begitu saja.

Proses mendapatkan ilmu ini memang seharusnya dijalani dan tidak asal melompat-lompat. Jangan asal demi nilai bagus, tebas sana-sini, tengok kanan-kiri. Jadi, yang dikejar bukan penguasaan ilmu, malah lebih kepada atribut bahwa dengan mendapat nilai bagus, berarti dia menguasai ilmunya.

Saat ini banyak terjadi fenomena tidak menghargai proses. Orang seringkali lebih bangga dengan nilai A yang didapat dengan belajar 1 malam ketimbang nilai A yang didapat dengan belajar 1 minggu. Kecerdasan seakan-akan mengalahkan kerja keras. Padahal, itu hanya kebetulan (by chance). Hal seperti itu mungkin saja terjadi and the probability is not zero. Tapi itu tak akan tahan lama karena knowledge itu dibangun secara bertahap, berproses, dan baru kemudian menjadi sesuatu yang mengendap. Itu perlu proses dan tentunya juga waktu, bukan sesuatu yang tiba-tiba.

Ilmu pengetahuan itu seperti bangunan, dibangun selapis demi selapis. Itu gunanya kurikulum, ada proses yang harus dilewati sehingga ada kematangan penguasaan. Hanya dari kematangan penguasaan ini, bisa timbul insight. Insight inilah yang akan membuka pintu kreativitas.

Pentingnya Menuntut Ilmu

Persoalan pentingnya menuntut ilmu ini tidak sepele bila melihat realitas di masyarakat. Walaupun sudah disuarakan dengan lantang di dunia tentang the age of abundant knowledge, knowledge based society, knowledge based economy, hal itu belum mengendap di bawah sadar, sehingga belum ada dorongan kuat untuk menuntut ilmu. Namun sekarang orang sudah mulai sadar tentang kebutuhan pendidikan yang tinggi, minimal harus sampai perguruan tinggi. Tapi baru sebatas mengejar diplomanya, belum sungguh-sungguh memikirkan penguasaan ilmu pengetahuannya.

Ini harus selalu digalakkan agar kesadaran akan pentingnya ilmu masuk di bawah sadar, dan ilmu tidak harus diperoleh secara formal. Agar pada akhirnya, akan ada pemahaman masal sehingga kesadaran penguasaan ilmu adalah kekuatan bersama dan gerakan masif. Bukan snapshots ataupun kelompok-kelompok kecil yang terpisah.

Apalagi dengan akses internet sudah menjangkau ke mana-mana. Handphone pun bisa menjadi alat transfer of  knowledge. Di masa depan, handphone bisa menjadi electronic boom, semakin terjangkau dengan fitur-fitur yang mendukung penyebaran ilmu pengetahuan. Di masa depan pun kita bisa memiliki stasiun-stasiun televisi yang tidak lagi untuk entertainment, tetapi untuk transfering knowledge dan memiliki penonton yang luas, seperti yang ada di luar negeri. Semua itu dapat timbul karena ada kesadaran akan pentingnya menguasai ilmu.

Agama Islam sendiri sudah menekankan hal  ini. Hanya saja, sering kali orang belum memiliki kesadaran dan praktik nyata, seperti membaca buku. Sudah berapa banyak buku yang telah dibaca? Berapa banyak buku yang kita baca dalam seminggu? Pengetahuan baru apa yang kita dapat dalam seminggu itu?

Ilmu – Teknologi – Investasi – Nama Baik

Bila hal ini bisa menjadi gerakan masif, kita dapat memiliki nilai jual yang tinggi. Harus diakui, salah satu kriteria negara yang akan menjadi tujuan investasi adalah seberapa banyak SDM yang tersedia di negara tersebut untuk direkrut. Dan kita tahu, investasi berkaitan dengan kesejahteraan, karena investasi akan membuka lapangan kerja.

Sayangnya, menurut penilaian terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kita masih dianggap rendah. Dulu, di kawasan Asia Tenggara, kita dikenal sebagai tujuan investasi karena tenaga kerja yang murah. Sekarang, murah tapi tidak terdidik, tentunya tidak akan menjadi tujuan investasi. Bagaimana pun, semakin lama, alat-alat yang digunakan semakin rumit dan canggih. Tentunya untuk menguasainya, butuh kemampuan dan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.

Jadi kebutuhan akan ilmu itu penting. Selain itu, kita pun harus sadar rendahnya posisi kita di dunia dan regional. Semoga kesadaran ini tumbuh sehingga kita terpacu untuk membaca dan membaca.

Pesan untuk Para Aktivis

Mereka yang duduk di bangku-bangku depan dalam perkuliahan sering dianggap geek dan diremehkan. Stereotipe semacam itu harus didobrak. Harusnya, duduk di depan, menyerap ilmu, dan tetap bisa bergaul dengan kawan.

Apalagi para aktivis, harus mampu mendobrak dan berprestasi. Aktivis itu public figure. Namanya juga ‘aktivis’, orang yang aktif. Biasanya mereka terlihat menonjol di kelompoknya. Mereka harusnya menjadi contoh, tidak hanya menjadi orang yang aktif di luar kelas, tetapi juga aktif di dalam kelas.

Aktivis dapat dipastikan sedikit lebih dewasa karena mereka biasanya menghadapi masalah-masalah yang para non-aktivis tidak terlibat. Cuma terkadang, mereka mengalami imbalances karena mereka terserap dahsyat atau terlalu hanyut di organisasi dan melupakan tugas pokoknya. Padahal mereka punya chances paling besar untuk tumbuh menjadi personal yang mature.

Disarikan dari wawancara antara SalmanITB.com dan Hermawan K Dipojono


Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.