LPP Gelar Seminar di Belitung, 1.100 Guru Hadir

Pemateri bersama panitia di Bangka Belitung. (Foto: Dok. LPP Salman)

Pemateri bersama panitia di Bangka Belitung. (Foto: Dok. LPP Salman)

Minggu, 30 Mei 2010, sekitar seribuan guru sudah berkumpul di Aula Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjung Pandan, Kepulauan Bangka Belitung. Padahal, waktu baru saja menunjukan pukul 8 pagi.  Mereka berbondong-bondong hadir untuk mengikuti Seminar Nasional bertajuk Dari Guru Konvensional Menjadi Guru Profesional.

Umumnya mereka berasal dari 2 kabupaten di Bangka Belitung, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Jumlah guru dari 2 kabupaten tersebut diperkirakan mencapai 2000 orang guru. Berarti, yang mengikuti seminar tersebut sekitar 50 persennya.

Di seminar tersebut, tampil sebagai pembicara utama adalah Dr. Ir. Indra Djati Sidi. Beliau adalah dosen ITB yang pernah menjabat sebagai Dirjen Dikdasmen Depdiknas RI pada tahun 1997 hingga 2005. Saat ini, beliau menjabat juga sebagai Ketua Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia. Pembicara lainnya adalah Ir. Syamril, Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB.

Hal menarik dari seminar ini adalah tidak adanya moderator khusus. Kedua pembicara tampil sebagai tim dengan Syamril yang cenderung mengambil peran sebagai moderator juga.

Seminar ini diawali dengan pengkondisian peserta agar mengikuti seminar dengan niat yang lurus untuk mencari ilmu dan ridha Allah semata, bukan sekadar mencari sertifikat. Indra Djati Sidi melanjutkan dengan paparannya mengenai hal-hal yang harus dimiliki guru agar dapat berubah dari guru konvensional menjadi profesional.

Kemauan dan Kerja Keras

Suasana ruang seminar. (Foto: Dok. LPP Salman)

Suasana ruang seminar. (Foto: Dok. LPP Salman)

Indra Djati mengawali paparannya dengan membandingkan perbedaan saat Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Ternyata kondisi tersebut tidak mampu menyiapkan Indonesia untuk merdeka. Namun saat Indonesia dijajah Jepang selama 3,5 tahun, ternyata Indonesia mampu lebih siap untuk merdeka dengan tentara Pembela Tanah Air-nya.

Apa yang diajarkan oleh Jepang? Hal utamanya adalah keberanian, kemauan, dan kerja keras. Akhirnya saat Indonesia merdeka, saat Belanda datang kembali ke Indonesia, para pejuang berani bertempur sampai mati dan berhasil mengusir penjajah belanda. Padahal senjata yang digunakan pun ala kadarnya.

Demikian pula dengan guru di zaman sekarang. Hal utama yang wajib dimiliki adalah kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Jika kemauan sudah tumbuh, maka jalan akan terbuka lebar. Namun jika yang muncul keengganan, maka yang muncul adalah banyak alasan. “Ada kemauan, ada jalan. Tidak ada kemauan, banyak alasan,” mungkin pepatah tersebut bisa mewakili hal utama yang harus dimiliki seorang guru saat ini.

Ketika Indrajati masih menjabat sebagai Dirjen Dikdasmen Depdiknas, beliau menantang kepala sekolah sebuah SMA Negeri di Papua. Indrajati menantang kepala sekolah bersangkutan untuk menjadikan siswanya mampu berbahasa Inggris dalam kurun waktu 1 tahun. Tantangan tersebut akhirnya diterima sang kepala sekolah.

Setahun kemudian, Indrajati kembali ke Papua. Luar biasa, ternyata siswa-siswi di SMA Negeri bersangkutan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Caranya? Kepala Sekolahnya menyelenggarakan English Day yang mengharuskan semua orang berbicara bahasa Inggris. Meskipun awalnya masih salah dan di campur dengan bahasa lain, tetapi hasilnya seluruh murid dan guru mampu berbahasa Inggris.

Setelah ada kemauan, tetapi hal tersebut belum cukup dan baru syarat wajib saja. Berikutnya guru harus terus berlatih, berlatih, dan berlatih untuk menjadi kompeten. Berlatih pun dapat dilakukan sendiri atau pun secara berkelompok dalam kelompok belajar guru.

Seminar diakhiri pukul 12.30 WIB dengan renungan, film, dan lagu-lagu pendidikan. Tampaknya peserta sangat terkesan. Hal ini terlihat dari bunyi Layanan Pesan Singkat (SMS) peserta ke panitia. “Saya sering mengikuti seminar, bahkan tak terhitung. Namun, baru kali ini sangat berkesan dan memuaskan. Tidak ada yang terlihat mengantuk. Hebat,” ungkap peserta melalui SMS.

Seminar ini merupakan kerjasama antara Politeknik Dharma Ganesha Belitung bekerja sama dengan LPP Salman ITB. Mudah-mudahan ilmu dan semangat yang disampaikan, dapat membangkitkan dan meningkatkan kualitas guru di Negeri Laskar Pelangi. Semoga

About author
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.