Judul: Burlian
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: 339 halaman
Harga: Rp. 50.0000,-
Setelah sukses dengan “Hafalan Sholat Delisa†yang sebentar lagi akan difilmkan, Tere Liye kali ini meluncurkan tetralogi tentang anak-anak. Tetralogi ini, menurut Tere Liye dalam salah satu catatannya di sebuah situs jejaring sosial, merupakan pengalaman masa kecil 4 orang anak yang terangkum dalam judul-judul “Burlianâ€Â, “Pukatâ€Â, “Ameliaâ€Â, dan “Elianaâ€Â. Buku yang pertama kali beredar adalah buku kedua, Burlian, disusul buku ketiga, Pukat, buku ke-empat Eliana, dan terakhir buku pertama, Amelia.
Sepintas, dilihat dari sampul depan, novel ini tidaklah terlalu menarik. Namun beberapa endorsement dari orang ternama barangkali dapat menjadi daya tarik awal saat melihat buku ini.
Kisah tentang “keistimewaan†Burlian diawali dengan keberanian mamak (ibu) Burlian, dalam keadaan hamil besar, mengusir burung yang meratap pada pohon Bungur raksasa di kawasan perkuburan. Konon kabarnya, suara ratapan burung itu adalah isyarat bahwa esok hari ada seseorang yang akan meninggal dunia. Esok harinya, Burlian lahir dan cerita mengusir burung itu seolah menjadi penanda “keistimewaan†Burlian yang terus-menerus diceritakan mamak dan bapak kepada Burlian dan saudaranya yang lain.
Burlian kecil kemudian tumbuh dalam balutan berbagai romantika kehidupan desanya yang sederhana. Mulai dari rasa ingin tahu Burlian kecil terhadap eksplorasi tambang yang ada di kampungnya, kenakalan Burlian dan kakaknya saat bermain senapan angin, atau keberanian mereka mendekati sungai “larangan†hingga hampir diterkam buaya besar.
Kisah-kisah dalam buku ini mengalir dalam alur sederhana, tidak terlalu dramatis, meskipun tidak bisa dibilang datar. Namun yang terpenting di balik kisah-kisah sederhana itu adalah hikmah dan pelajaran besar yang akan selalu didapatkan pembaca.
Misalnya, bagaimana mamak (ibu) Burlian memberikan hukuman pada Burlian dan Kak Pukat yang membolos sekolah dengan cara mencari kayu bakar di hutan. Atau pelajaran berharga saat mang Unus membawa Burlian dan Kak Pukat memasuki hutan, menyebrangi sungai dan melihat apa yang mereka sebut “kebijakan leluhur kampungâ€Â, sesuatu yang sudah sangat terancam keberadaannya di negeri ini.
Tidak ada kesan yang terlalu kuat dirasakan pembaca saat mengikuti pengalaman-pengalaman Burlian. Namun, yang terbaik dari semua itu adalah ketika bagian akhir novel ini mampu menjawab pertanyaan tentang apa dan bagaimana keistimewaan Burlian.
Tere Liye menjawabnya pada halaman 335 dengan untaian kalimat begini:
Aku akhirnya mengerti kenapa Bapak, Mamak sejak kecil selalu bilang, “Kau spesial Burlian”. Itu cara terbaik bagi Bapak, Mamak untuk menumbuhkan percaya diri, keyakinan dan menjadi pegangan penting setiap kali aku terbentur masalah.
Aku ingat Bapak, Mamak selalu bilang, “Kau anak yang kuat, Amelia”, agar Amelia yang sakit-sakitan tumbuh menjadi kuat. Mamak juga bilang, “Kau anak yang pemberani Eli”, maka jadilah ayuk Eli menjadi orang yang pemberani atas banyak hal.
Sedangkan kepada kak Pukat Bapak dan Mamak selalu bilang, “Kau anak yang pintar”, maka jadilah kak Pukat sepintar kalimat itu diucapkan berkali-kali semenjak kecil.
Untaian kalimat inilah yang kemudian diistilahkan sebagai labeling.
Dalam ilmu psikologi, penyesuaian diri terhadap label yang dilekatkan didasari oleh proses modeling (meniru), reinforcement (penguatan), dan conditioning (pengondisian). Artinya, ketika seorang anak dikenakan label tertentu tentang dirinya, maka orang lain cenderung akan memperlakukan anak tersebut sesuai dengan label yang diberikan.
Misalnya, seorang anak yang diberi label “bodoh” cenderung tidak akan diberikan tugas-tugas yang menantang karena orang lain berpikir, “Ah dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia.†Kondisi ini menyebabkan anak tersebut tidak dipacu sehingga kemampuannya tidak berkembang lebih baik.
Bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi.
Aplikasi dari konsep inilah yang dikupas dengan “cantik†oleh Tere Liye dalam Burlian. Ini juga yang sepertinya akan kembali dimunculkan dalam buku-buku selanjutnya pada rangkaian tetralogi Burlian.
Namun, dibalik semua daya tarik itu, novel ini juga tidak lepas dari kekurangan. Kisah-kisah Burlian yang terangkum dalam 24 bab ini seolah de javu dengan kisah yang dipaparkan Andrea Hirata dalam tetralogi “Laskar Pelangiâ€Â. Barangkali latar belakang yang berbeda akan memberikan kesan yang lebih dalam pada pembaca. Misalnya, satu contoh seperti yang terdapat dalam “Negeri 5 Menara†yang dikupas dalam latar pesentren, sehingga menjadikannya istimewa.
Meskipun demikian, secara keseluruhan, novel ini layak dibaca siapa saja dan dapat menjadi bahan renungan dalam membesarkan dan mendidik anak. Yuwelda Bahtiar
Dikutip dari sinopsis yang dibuat oleh Yuwelda Bahtiar untuk kegiatan rutin bedah buku Aksara pada hari Jumat, 16 April 2010.







![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)