Berpetualang Ala Eureka!

Pembina Karisma tengah bermain Mission Imposible di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Bandung. (Foto: Tristia)

Pembina Karisma tengah bermain Mission Imposible di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Bandung. (Foto: Tristia)

Sebanyak 20 calon pembina putri dan 18 calon pembina putra Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB jalan-jalan! Sejumlah tempat mereka susuri pada hari Minggu (11/04) lalu. Mulai dari Sekolah Alam di dago, Taman Hutan Ir. Juanda, sampai Gua Belanda. Tak sekedar jalan-jalan, mereka juga turut berpartisipasi dalam simulasi-simulasi menyenangkan tetapi tetap beresensi.

“Simulasinya itu ada Mission Impossible, Blind DOR!, dan terakhir ada Balloon Fight,” tutur Aditya Krishna Subagiyo, ketua pelaksana Eureka! periode 29.2, ketika ditanyai via instant messenging.

Mission Impossible adalah sebuah permainan yang menguji strategi, kejujuran, dan keserasian hati. Dalam simulasi ini, diperlukan banyak sedotan yang disambung-sambung menjadi sebuah gugusan yang panjang.

“Setelah itu, sedotan yang panjang itu mereka (anggota kelompok.red) taruh di atas jari telunjuk mereka. Lalu, mereka harus menurunkan sedotan yang panjang itu ke tanah bareng-bareng. Nggak boleh dijepit,” ungkap mahasiswa Astronomi ITB angkatan 2008 ini.

“Nah, kalau pas nurunin ternyata ada satu orang yang jarinya lepas dari sedotan, maka ulang lagi dari awal.”

Pada kenyataannya, tidak ada satupun kelompok yang berhasil menyelesaikan ‘tugas’ itu.

“Jadi semuanya tidak bisa. Sesuai dengan namanya. Impossible,” tutur Aditya seraya tertawa kecil.

Simulasi Blind DOR! memiliki filosofi bahwa peserta harus bisa mempercayakan arahan kepada satu orang saja. Pertama-tama, mereka harus memilih salah satu di antara mereka yang akan ditutup matanya. Sementara itu panitia mempersiapkan balon berisi air yang digantung.

“Yang ditutup matanya memegang jarum untuk memecahkan balonnya. Temannya boleh ngasih arah, tapi sebatas instruksi ‘kiri’, ‘kanan’, ‘tusuk’. Nggak boleh dikasih tahu dimana balonnya,” ujarnya menjelaskan.

“Nah karena banyak banget yang memberikan instruksi, otomatis yang ditutup matanya bakal merasa bingung.”

Oleh karena itu, ada semacam kepercayaan yang tidak bisa dilihat dari yang berbicara (dalam hal ini pemimpin). Kalau banyak yang mengarahkan, nanti malah bingung. Si jundi (pengikut) malah bingung dan bisa-bisa ‘pundung’ dalam dakwah ini.

“Ya, kalau di organisasi dibilangnya staf lah,” jelas Aditya.

Yang terakhir cukup simpel bila dibandingkan dua simulasi sebelumnya, simulasi Injak Balon. Jadi setiap calon pembina diberikan satu balon dan satu tali rafia. Setelah itu balonnya mereka tiup dan mereka ikatkan di kaki mereka.

“Nah, kalau sudah seperti itu mulai deh injak-injak balonnya untuk diledakkan.”

Harus Kuat

Secara keseluruhan, perjalanan dari Sekolah Alam sampai Gua Belanda ditujukan untuk membuat para calon pembina memiliki fisik yang kuat.

“Kalau bahasa arabnya, istilahnya qawiyul jism,” ungkap pria yang semenjak tahun 2009 menjadi pembina Karisma ini.

“Jadi pembina Karisma harus kuat. Karena yang dihadapinya itu remaja, yang notabenenya masa-masa paling aktif,” simpul Aditya.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.