Dekat dengan Allah, Dekat dengan Kebahagiaan

Suasana talkshow Pengajian Satu Hati dan Syukuran Wisudawan Muslim ITB. (Foto: Sandro Purnama)

Suasana talkshow Pengajian Satu Hati dan Syukuran Wisudawan Muslim ITB. (Foto: Sandro Purnama)

Kebahagiaan didapat bukan ketika seseorang menjadi kaya, tetapi dekat dengan Allah. Demikian disampaikan oleh ustadz Budi Prayitno dalam tausyiah kegiatan Pengajian Satu Hati dan Syukuran Wisudawan Muslim ITB di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB pada Minggu (11/4) lalu.

“Jadi, daripada punya uang sedikit tetapi haram, lebih baik punya uang banyak tetapi halal,” lanjut Ustadz Budi disambut gelak tawa seisi GSG Salman ITB. Memang, dalam memberikan tausyiah, Ustadz Budi terkenal luwes dan humoris.

Ustadz Budi kemudian memperlihatkan foto seorang supir dan office boy sebuah perusahaan swasta di Bandung ketika mereka sedang beribadah Umroh ke Mekah. “Lihat mereka. Bahagia bisa umroh. Uangnya dari mana? Tentu saja dari hamba Allah yang lain,” tandas Ustadz Budi. Ustadz Budi menandaskan bahwa kesempatan mendapatkan kemuliaan dalam hidup diberikan oleh Allah tanpa melihat level kehidupan.

Dalam tausyiahnya yang berdurasi 30 menit tersebut, Ustadz Budi juga mengingatkan bahwa hidup hanya sebentar saja. “Cuman mampir, dan jangan sampai terpedaya,” nasehatnya. “Akhirat nanti adalah hidup sebenarnya,” lanjutnya.

Ustadz Budi mencontohkan dengan matahari yang akan padam 10 milyar tahun yang akan datang. “Bayangkan, kalau kiamat ditandai dengan padamnya matahari, dan kalau kita mati hari ini, berarti kita harus menunggu di alam kubur minimal 10 milyar tahun lagi,” tegasnya.

Untuk itu, Ustadz Budi menekankan untuk selalu beriman kepada Allah agar selamat dunia dan akhirat.

Dalam mencari rezeki, Ustadz Budi meyakinkan wisudawan untuk tidak pantang menyerah. “Kalau susah cari kerja, mending buka kerjaan, seperti dagang cilok (makanan dari tepung aci),” imbuhnya. Bagaimana pun, lanjut Ustadz Budi, kegagalan dan kepedihan merupakan cobaan dan ujian yang Allah berikan kepada hambanya agar bisa lebih kuat.

“Bagaimana pun, Allah itu Maha Pencipta dan Maha Memelihara. Jadi, yang sakit dosa-dosanya akan diampuni dan derajatnya naik, asal ridho,” simpulnya.

Sebelum penutupan, bapak dari 3 anak ini mengingatkan untuk selalu dekat dengan Allah melalui 4 cara. Pertama, lepaskan diri dari pemikiran bahwa semua yang terjadi diakibatkan makhluk.

Kedua, instrospeksi diri dan bila mendapatkan musibah, ucapkan Innalillahi. Ketiga, perbanyak istighfar. Terakhir, berdoa. Karena doa merupakan senjata kaum mukmin. Bila tidak dijawab atau tidak dikabulkan, berarti Allah menundanya untuk akhirat kelak atau menggantinya dengan yang lebih baik.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Keluarga Aktivis Masjid (Karim) Salman ITB yang didukung oleh Rumah Amal Salman ini, dihadiri oleh sekitar 100 orang yang terdiri dari wisudawan dan wisudawati Salman ITB, penerima Beasiswa Bervisi, kader Kampung Bangkit, dan anggota Korps Relawan Salman (Korsa) ITB.

Inti kegiatan ini adalah talkshow bertajuk Membingkai Karir dalam Idealisme Membangun Masyarakat dan Bangsa. Hadir sebagai pembicara Kepala Pustekkom Depdiknas RI Dr. Ir. Lilik Gani dan CEO dan Owner PT Mega Cipta Sentra Persada Ir. Herry Moelyanto.

Dalam kegiatan ini juga diberikan penghargaan kepada Kader Kampung Bangkit dan Relawan Teladan. Selaku penerima penghargaan adalah Dewi dan Lala Komara dari Kampung Sekepicung, Mimin dari Awilega Garut, dan Ahmad Itsnaeni dari Kampung Cimenyan. Sedangkan penerima penghargaan Relawan Teladan adalah Dudi Setiawan dan mahasiswa Psikologi UPI Syifa Hudzaifa Az-Zahra.

*

*

Top