Pada hari Kamis 18 Maret 2010, ketika saya sedang melintas di bawah jembatan layang Pasoepati, mendadak terjadi kemacetan kecil. Ketika dilihat ternyata saudara-saudara kita dari Hizbut Tahrir sedang berdemonstrasi. Isi demontrasinyaâ€â€seperti yang saya dugaâ€â€adalah menolak kedatangan Barrack Obama.
Ya, memang akhir-akhir ini kita banyak disibukkan untuk mendengar, menonton, atau bahkan ikut membicarakan Obama. Kedatangannya ke Indonesia ditanggapi dengan berbagai sikap dan yang dominan adalah penolakan. Bukan hanya dari Hizbut Tahrir, tapi dari berbagai golongan ulama yang katanya sudah menyatakan kebulatan tekadnya. Bahkan mereka sudah “mendaftar†dosa-dosa Obama kepada umat Islam selama dia menjadi Presiden Amerika.
Kalau kita singkapi, kedatangan Obama ke Indonesia ibarat kita kedatangan tamu di rumah. Pertanyaannya, apakah sebagai tuan rumah kita seratus persen wajib menyambut tamu? Sedangkan dalam Islam pun ada aturan kalau tamu itu mengetuk pintu tiga kali dan tidak dibukakan maka dia tidak berhak masuk rumah. Artinya juga, sebagai tuan rumah kita berhak untuk tidak membukakan pintu. Misalnya karena sedang heboh-hebohnya bertengkar dengan istri sehingga kalau kedatangan tamu malah jadi tidak karuan jadinya.
Lalu pertanyaan kedua, pernah kita mempelajari ketukan pintu seseorang ketika bertamu? Apakah dia mengetuk dengan mengucapkan salam? Tanpa mengucapkan salam? Tidak mengetuk tapi hanya mengucapkan salam? Mengetuk pelan? Menggedor pintu? atau bahkan menendang pintu? Pernahkah kita mempelajari unsur psikologis apa, kondisi emosional jiwa bagaimana ketika si tamu mengetuk, kepusingan hidupnya, atau bahkan uang di kantungnya? Lalu ketukan macam apa yang dilakukan Obama kepada “pintu depan†Indonesia?
Dalam kasus ini, mungkin memang benar pemerintah Indonesia yang mengundangnya, jadi bukan dia yang ujug-ujug datang bertamu. Kalau begitu maka secara logika moral, kita sebagai tuan rumah justru wajib membuka pintu, dan kebalikannya si tamu juga mesti mengetuk dengan ketukan sesopan-sopannya plus uluk salam sebelumnya. Mengingat sebuah undangan adalah ciri itikad baik tuan rumah. Akan tidak lucu jadinya kalau setelah diundang baik-baik lalu si tamu datang dan malah menggedor-gedor pintu, atau lebih lucu lagi jika setelah diundang dan si undangan datang malah pintu tidak dibuka oleh si tuan rumah.
Ada kisah di jaman Rasulullah, suatu hari, Umar bin Khatab yang masih kafir menggedor-gedor pintu rumah tempat Rasulullah dan para sahabat berkumpul. Boro-boro mengucapkan salam, mendengar dia meneriakkan namanya para sahabat ada yang gemetar, satu-dua sudah meraba-raba gagang pedang. Situasi ini wajar mengingat Umar adalah salah satu musuh Islam yang paling kuat, paling bengis yang sering bertindak tanpa tedeng aling-aling kalau sudah urusan sama umat Islam.
Tapi ternyata menghadapi orang seperti itupun Rasulullah dan para sahabat membukakan pintu, mempersilahkan masuk, dan endingnya kita sudah tahu, hari itu Umar masuk Islam.
Di sini kita tidak perlulah berdebat tentang lebih jahat mana: Obama atau Umar? Kita tidak perlu lagi berdebat apakah “pintu depan†perlu dibuka atau tidak? Karena pemerintah Indonesia sendiri yang menyatakan kalau Obama itu diundang ke sini, artinya secara logika moral kita jadi wajib membuka pintu.
Tapi marilah kita bicara tentang Obama sebagai manusia, apalagi manusia yang ini kabarnya cukup dekat dengan budaya Indonesia karena waktu kecilnya pernah tinggal di sini. Bahkan Cendekiawan Muslim kita, Azyumardi Azra pada sebuah diskusi mengatakan bahwa meskipun menganut agama Kristen, Obama cukup banyak mengenal Islam karena banyak diantara keluarganya muslim. Bahkan tambah Azra, Obama juga terbiasa mendengar azan.
Jadi sebenarnya sebagai manusia, Obama terkena hukum baik dan buruk. Maksudnya bagaimana? Begini, mungkin sewaktu-waktu hal-hal baiklah yang terjadi padanya. Misalnya silaturahmi dan guyonan dengan tokoh Islam anu, mendengar adzan di masjid anu, punya niatan bersedekah kepada si anu. Atau mungkin sewaktu-waktu justru hal-hal buruk yang dia lakukan, misalnya saja daftar dosa yang sudah ditulis oleh para ulama itu.
Mungkin yang membuat Obama jadi ada di posisi negatif, terutama di mata kita adalah langkah nyata Obama terhadap dunia Islam belum terlihat jelas. Ada tiga tantangan yang membuat Obama dinilai buruk karena ketidaktegasannya dalam menyikapi persoalan dunia islam di Timur Tengah yakni: Palestina, Afganisthan dan Irak. “Ini yang membuat citra Obama belum baik dan cenderung memberikan pandangan negatif ke kaum muslimin,†demikian menurut Azyumardi Azra.
Padahal sebagai manusia, Obama itu seperti pisau. Apa sih hukum pisau? Hukum pisau itu tidak ada, pisau itu netral. Ketika pisau itu dipakai menggorok leher ayam dengan diiringi bismillah maka pisau itu bisa jadi barang baik. Tapi kalau dipakai menggorok leher orang lain, maka status pisau itu jadi barang jahat. Jadi secara manusia Obama itu harusnya kita anggap netral. Adapun karena dia manusia yang masih bisa didekati oleh setan atau malaikat, artinya perbuatannya masih bisa jahat atau baik maka biarlah perbuatannya yang kita nilai.
Dan sekarang, sebagai manusia dia ingin bertamu, bahkan dia sudah diundang bertamu. Sebagai tuan rumah kita wajib membukakan pintu dan menyambutnya, seperti halnya Rasulullah membuka pintu untuk Umar. Hanya saja kita tetap harus waspada. Bila nanti ketika sudah masuk rumah lantas si tamu itu ternyata berbuat aneh-aneh, maka tuan rumah pun berhak untuk mengambil tindakan. Bahkan sekeras-kerasnya tindakan kalau perlu.
Tapi sekarang? Suruh masuk saja dulu lah, bagaimana kita bisa tahu niatnya bertamu kalau masuk saja tidak boleh. Katanya kita tidak boleh berprasangka buruk? Betul kan pak ulama?







![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)