Alkisah sekitar tahun 2004, beberapa misionaris dari luar negeri datang ke Masjid Salman ITB. Mereka mengajak diskusi agama. Beberapa ustadz di Salman pun bersedia. Diskusi diadakan. Namun sepanjang diskusi nampak ada kegagalan komunikasi. Si ustadz punya ilmu namun tidak cakap berbahasa Inggris. Si misionaris pun terus bertanya untuk memahami maksud si ustadz.
Dari situ tumbuhlah kesadaran akan pentingnya bahasa Inggris untuk berbagi ilmu dan mensosialisasikan Islam. Salman English Forum (SELF) pun berdiri dan dibuka untuk seluruh aktivis Salman.
Awalnya SELF hanyalah program internal asrama. Setiap pekannya mereka menghadirkan native speaker, mulai dari negara-negara tetangga sampai negara bekas penjajah kita. Dengan format yang sama, saat ini SELF dikelola oleh Keluarga Aktivis Masjid Salman ITB (Karim). Meski sudah 5 tahun berdiri, program ini masih belum mendapat cukup perhatian dan komitmen dari para pesertanya. Kesibukan menumpuk para aktivis adalah salah satu hambatan terselenggaranya pertemuan rutin.
Jadwal pertemuan rutin adalah Ahad pagi. Pilihan waktu yang agak janggal mengingat Ahad pagi adalah waktu tersibuk Salman. Sebut saja Karisma dengan mentoring adik-adik SMP – SMA atau PAS dengan mentoring adik-adik kecil dan beragam acara lainnya.
Alhasil perhatian dan waktu para aktivis – target utama program SELF – lebih tersita kepada kegiatan-kegiatan lain itu. Selain dari internal peserta, kendala kadang datang dari pembicara. Pertemuan tak jarang batal karena pembicara berhalangan hadir. Dari segi perekrutan pun masih minim. Publikasi hanya dilakukan secara personal dari mulut ke mulut.
Forum semacam ini memang bukan satu-satunya media interaksi dengan Bahasa Inggris. Kita dapat menemui Bahasa Inggris dalam keseharian kita, baik di perkuliahan, buku, internet, televisi, radio, dan lagu. Namun kesempatan untuk benar-benar bertatap muka dan berinteraksi secara aktif seperti dalam pertemuan rutin SELF patut dimanfaatkan dan dipertahankan.
Penting atau Formalitas?
Rusnang, penanggung jawab SELF, mengakui pentingnya Bahasa Inggris sebagai jendela sekaligus jembatan kepada dunia. “Saya tertarik dengan Bahasa Inggris karena memang saya butuh,” jelas mahasiswa Teknik Kimia ITB 2007 yang juga anggota Student English Forum ITB (SEF ITB) ini. Ya, bahasa yang terpilih sebagai bahasa internasional adalah Bahasa Inggris. Sudah semestinya kita menguasainya.
Di lain waktu peserta lain menyatakan dia mengikuti SELF karena ini memang program dari Asrama. Alasan standar dan terasa formal.
Budaya berbicara bahasa internasional nampaknya musti disosialisasikan kepada rakyat Salman. Dan SELF seharusnya dapat menjadi wadah formal untuk memfasilitasi minat dan kebutuhan berbahasa Inggris.
Kita sadar bukan bahwa kita berada di era globalisasi? Bahkan sekolah-sekolah pun berlomba mencapai Sekolah Berstandar Internasional (SBI) dengan Bahasa Inggris. Masjid, sebagai pusat perkembangan peradaban Islam, tentunya harus lebih maju lagi dan mampu memaknai kemajuan dengan nuansa Islam.
















