Melihat profesionalitas Pak Rizal dalam mengelola rumah bunga miliknya, mengiralah bahwa dia adalah seorang sarjana lulusan fakultas yang berhubungan dengan biologi, pertanian, agroteknologi, atau apapun itu. Ternyata asumsi tersebut salah.
“Bukan, Dik. Saya lulusan Teknik Arsitektur IKIP, sekarang UPI. Malah saya sempat tiga setengah tahun kerja di biro arsitektur. Tetapi saya lelah. Pulang malam terus,” kenangnya ketika ditemui bersama kedua temannya di tempat tinggalnya pada hari Minggu, 28 Februari 2010.
Beliau mengatakan, ketika berencana untuk keluar dari tempat kerjanya, teringatlah akan hobi masa kecil. Berkebun. Itulah cikal bakal pria yang pertama kali mendatangkan kaktus ke Indonesia ini, memilih bisnis tanaman sebagai pijakan pertama setelah melepas dunia perkantoran.
“Dunia perkantoran membuat saya jenuh. Saya tahu apa yang saya tahu. Saya ingin jadi petani,” ujarnya mantap.
Menurutnya, petani bukanlah sebuah profesi yang sarat akan kehinaan. Rasulullah saja dulu sempat jadi petani, peternak, dan pedagang sampai akhirnya ia menjadi Khalifah.
“Tidak ada ceritanya tuh Rasulullah menyuruh kita jadi pegawai kantoran,” candanya.
Beliau lanjut mengatakan, sebaik-baiknya bisnis ialah bisnis yang disukai sekaligus bisnis yang dapat mendatangkan keuntungan. Orang kaya itu mikirnya bagaimana agar mereka terus menjual dan memproduksi. Kalau orang miskin itu mikirnya lebih ke arah hal-hal yang mendorong mereka untuk menjadi konsumtif.
“Orang kaya yang saya maksudkan bukan orang yang banyak duitnya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya amal ibadah.. Itulah kaya yang seharusnya kita raih.”
Dalam bisnis tanaman, pria yang pernah menjuarai kontes tanaman anggrek se-ASEAN di Jawa Timur tahun 2003 ini mengatakan keuntungannya sungguh dapat dibilang “Subhanallah” sekali.
“Ketika saya sedang tidak bekerja pun, Alhamdulillah uang tetap mengalir.”
Tampaknya penuturan Pak Rizal ini menumbuhkan minat kedua pria teman ngobrolnya untuk turut serta berbisnis seperti ini. Salah satu dari mereka bertanya, “Apa saja nih kendala dalam berbisnis tanaman ini?”
“Diri sendiri!” jawabnya tanpa tedeng aling-aling.
“Kebanyakan kendala itu datangnya dari diri sendiri. Seperti takut gagal, gengsi, dan lain-lain lah. Yah, itu dia. Penyakit hati.”
Bunga, Wanita, dan Perannya dalam Islam
Pak Rizal Djafaarer ini tampaknya orang yang romantis. Kesan ini terlihat ketika dia mengatakan bahwa beliau sungguh menyukai bunga serta keindahan tersendiri yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika ia menyatakan bahwa wanita dan bunga memiliki persamaan.
“Sebagian besar orang menyukai bunga karena aroma, warna, keunikan, nilai jual, dan keindahan yang dimilikinya. Oleh karena itu, bunga juga identik dengan wanita, itulah sebabnya ia perlu dicintai.”
Ketika ditanyakan lebih lanjut tentang peranan wanita dalam kehidupan rumah tangga, beliau mengatakan betapa dzalimnya suami yang membiarkan istrinya bekerja di luar rumah.
“Dalam Islam kan sudah ada pembagian peran. Suamilah yang mencari nafkah. Istrilah yang pertama kali mendidik anak-anak mereka dalam lingkungan rumah. Istri juga sebenarnya bisa ikut berusaha, tetapi usahanya cukup yang nggak usah ke mana-mana. Di rumah juga bisa kan? Apalagi sekarang ada internet.”
“Ada beberapa kasus yang membuat saya miris. Teman-teman saya yang kerjanya kantoran dan istrinya juga bekerja, mereka malah punya WIL (wanita idaman lain) dan PIL (pria idaman lain) masing-masing. Anaknya malah kebanyakan gaul sama pembantu. Pembantu itu kan kebanyakan pola pikirnya kurang terarah, dan ini akan menular kepada si anak.”
Pendapat pribadi Pak Rizal ini seakan membuat kita berpikir bahwa wanita itu kesannya wanita rumahan yang kuper (baca: kurang pergaulan). Namun hal itu terpatahkan ketika Pak Rizal melanjutkan argumentasinya.
“Bukannya kita, para pria bisa seenaknya saja memilih wanita untuk dijadikan istri. Istri itu harus pintar. Harus punya pengetahuan yang luas. Istri itu merupakan teman diskusi paling setia yang senantiasa membantu suaminya memecahkan segala permasalahan yang mengganggu,” ujarnya.
Bersungguh-sungguh, tapi jangan lupa bersyukur!
Filosofi hidupnya ialah bersungguh-sungguh ketika ditanya.
“Apapun profesimu, jalanilah dengan kesungguh-sungguhan. Dan jangan lupa bersyukur! Karena banyak orang kaya sukses, mereka bersungguh-sungguh tetapi mereka tidak bahagia karena tidak bersyukur dengan apa yang mereka sudah punya,” tutur pria beranak dua ini mantap.
“Untung kita beragama Islam. Ada Allah yang senantiasa menjamin keberkahan rezeki setiap manusianya jika kita tetap berusaha secara jujur dan berada di koridor yang benar. Insya Allah.”

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)



![Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012] Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/05/Asrama-Salman-ITB-50x50.jpg)
![Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012] Kelas Tematik DPD Salman ITB: Shalat, Sebuah Solusi dalam Hidup dan Kehidupan [24 Mei 2012-14 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/kelas-tematik-50x50.jpg)



Budhiana, Bandung, Indonesia
Tuesday, 9 March 2010
Tristie…bagus sekali…
Iqbal Alfajri
Monday, 8 March 2010
Petani itu profesi mulia. Profesi yang paling cocok untuk orang Indonesia…