Pak Pal Masih “Menapaki Jalan Mendaki”

Pagi itu, Senin 15 Maret 2010, Aula Barat ITB kembali kedatangan seorang tokoh yang inspiratif.  Sosok itu adalah Palgunadi T. Setyawan, seoranga alumni Mesin ITB angakatan 57.  Beliau hadir dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Menapaki Jalan Mendaki” yang digagas Keluarga Alumni Masjid (Kalam) Salman ITB dan Ikatan Alumni (IA) ITB.

Kakek lima cucu yang lahir tahun 1939 ini tampak segar dalam busana batik coklat.  Walaupun rambutnya telah nyaris putih, air mukanya yang cerah dan senyum yang senantiasa mengambang memberi kesan ramah dan tulus.  Pak Pal, begitu beliau akrab disapa memang dikenal sebagai pribadi yang hangat.

Tampak dalam kesempatan itu beberapa teman seperjuangan beliau saat masih kuliah di ITB, diantaranya Ir. Achmad Noe’man dan Prof. Wiranto Arsimunandar.  Hadirin dari lintas generasi, yang terdiri dari alumni ITB dan mahasiswa ITB  telah memenuhi sekira dua ratus kursi yang tersedia sejak acara dibuka pukul 09.30 WIB.

Diawali dengan pemaparan singkat tentang buku keduanya tersebut, Pak Pal menampilkan puluhan foto yang ditayangkan lewat infocus.  Melalui foto-foto itulah, Pak Pal menceritakan jalan hidupnya dengan runut yang menjadi inspirasi dalam menulis buku setebal 272 halaman itu.  Dari foto-foto itu dapat dilihat betapa Pak Pal mempunyai jaringan pergaulan yang luas.

Selanjutnya sebagai pembahas pertama, Prof. Akhmaloka mencoba mencermati manfaat dari buku karya mantan Senior Vice President ASTRA ini.  Menurut Rektor ITB ini, buku Pak Pal dapat menjadi refleksi bagi generasi yang sudah berusia di atas 50-an.  Sedangkan untuk anak muda, buku ini dapat memberi gambaran tentang perjalanan hidup dan bagaimana memaknai kesuksesan.

Pembahas kedua adalah Ir. Ichwan Ishak yang mencoba mengupas pribadi Pak Pal dalam perspektif Islam.  Ketua Kalam Salman ITB ini tak dapat menyembunyikan rasa kekagumannya atas pemahaman yang mendalam dari seorang Palgunadi akan hakikat Tuhan, alam, dan manusia.  Menurut mantan anggota DPR dari PAN ini, Pak Pal telah berhasil menjadi sosok yang sangat bermanfaat bagi orang lain.

Setelah melewati sesi tanya jawab, tanpa terasa azan Dhuhur telah mengumandang dari menara Salman.  Acara pun ditutup dengan pembacaan doa oleh Ketua Kalam Bandung, Dr. Taufikurrahman.

Ada satu pernyataan menarik yang sempat muncul dari uraian Pak Pal.  Menurut beliau, walaupun sudah mencapai usia yang cukup lanjut, tidak ada istilah ‘sisa umur’.  Yang ada adalah bagaimana memaksimalkan umur yang kita miliki untuk senantiasa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.  Pak Pal memang masih “Menapaki Jalan Mendaki”.

2 total comments on this postSubmit yours
  1. tadi ikut acaranya di Aula Barat ITB
    ternyata Pak Palgunadi sangat bijak orangnya
    kata-katanya pun penuh hikmah
    salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa ini

  2. Buku pertama beliau ‘Daun Berserakan’ sangat inspiratif
    saya akan baca juga buku keduanya ini nanti setelah beli

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.