Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Salman ITB membuka beasiswa untuk muadzin. Pengumuman ini tampak dipasang di papan pengumuman Salman ITB. Pertanyaannya, apakah Masjid Salman ITB masih kekurangan muadzin sehingga masih harus mencari muadzin dari luar Salman ITB?
Ahmad Jalaludin, ketua Program Bahasa Arab LPD Salman ITB menuturkan bahwa program muadzin berada di bawah tanggung jawab pihaknya, tepatnya di bawah program tamir. Ditemui oleh SalmanITB.com di kantor LPD Salman ITB pada hari Kamis, 11 Maret 2010, Ahmad menjelaskan bahwa sebelumnya telah ada kesepakatan antara asrama dengan LPD perihal muadzin. “Asrama bertanggung jawab untuk adzan pada waktu subuh, maghrib, dan isya. Sedangkan LPD bertanggung jawab untuk adzan pada waktu dzuhur dan ashar,” jelas Ustadz Ahmad, begitu Ahmad akrab disapa.
Persoalannya, lanjut Ahmad, LPD memiliki keterbatasan dalam hal rekruitmen muadzin. Sehingga petugas muadzin ketika dzuhur dan ashar adalah karyawan Masjid Salman ITB. Namun, dari pengurus Salman ITB sendiri meminta agar tenaga muadzin adalah mahasiswa.
Ketika disinggung perihal tenaga muadzin dari pihak asrama, Ahmad menilai mahasiswa asrama Salman ITB tidak konsisten. Ketika dijadwal untuk adzan, banyak mahasiswa yang keteteran memenuhi jadwal adzan yang telah ditetapkan. “Pernah nggak dijadwal, tidak konsisten juga,” ungkap Ahmad kebingungan.
Akhirnya LPD berinisiatif membuka seluas-luasnya kesempatan untuk mahasiswa lain menjadi muadzin di Masjid Salman ITB. Meskipun begitu, Ahmad mengaku kurang sreg dengan cara ini. “Seharusnya kami memang melakukan pendekatan kepada unit-unit di sini (Salman ITB) seperti Gamais,” tutur Ahmad.
Kesalahan Interpretasi
Johansyah, pengurus Salman ITB, menilai langkah yang diambil oleh LPD Salman ITB merupakan kesalahan interpretasi. Selama ini, keinginan pengurus Salman ITB untuk memaksimalkan fungsi kawan-kawan asrama masih sebatas wacana. “Kesimpulannya belum sampai ke sana (mengharuskan petugas muadzin adalah mahasiswa). Mungkin LPD ambil sikap proaktif,” ungkap Johansyah ketika ditemui di Front Office Salman ITB pada hari yang sama.
Johansyah menuturkan bahwa idealnya penghuni asrama menjadi muadzin ketika waktu sholat tiba. Namun, beliau memaklumi kesibukan mahasiswa ITB saat ini. Sehingga peran muadzin diserahkan kepada karyawan yang memiliki suara bagus.
Lebih lanjut, Johansyah menilai untuk menjadi seorang muadzin harus memiliki bakat, seperti suara tidak fals dan bernafas panjang. Hal ini, menurut Johansyah, tidak dapat dipaksakan.
Ketika ditanya mengenai adanya tes muadzin untuk penghuni asrama, Johansyah mengaku tidak tahu lantaran dirinya baru jadi pengurus di Salman ITB. Tapi, dirinya menduga, tes muadzin adalah salah satu materi yang diujicobakan kepada calon penghuni asrama.
Namun, Johansyah mengakui bahwa tes muadzin bukan satu-satunya syarat seorang mahasiswa ITB lolos jadi penghuni asrama. “Mungkin ada pertimbangan lainnya,” tutur Johansyah.
Beliau mencontohkan dengan mahasiswa yang memiliki suara tidak terlalu bagus dan nafas pendek, tetapi memiliki hafalan Alquran yang banyak. “Nah, yang seperti ini (hafalan Alqurannya banyak), cocok untuk menjadi imam sholat. Sehingga mungkin dipertimbangkan untuk masuk asrama,” lanjut Johansyah.
Meskipun begitu, Johansyah mengharapkan Salman ITB mampu memberdayakan penghuni asramanya secara utuh sehingga menjadi inti dari setiap aktivitas di Salman. “Bagaimanapun juga, Masjid Salman ITB adalah embrio intelektual masa depan bangsa. Dalam hal ini, sebagai core-nya adalah teman-teman asrama,” ungkap Johansyah.








![Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012] Aksi Donor Darah dan Infaq Transfusi [10 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG_4265-50x50.jpg)

![Pembukaan Kelas Bahasa Arab DPD Salman ITB [11 Februari 2012] Pembukaan Kelas Bahasa Arab DPD Salman ITB [11 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/09/Picture-310-50x50.jpg)