Sikap seseorang terhadap sesuatu hal sangat ditentukan akan persepsinya, sebab persepsi yang disertai keyakinan yang kuat akan melahirkan sikap yang benar, dan sebaliknya jika tidak yakin maka sikapnya akan menjadi rusak. Ini penting untuk dipahami mengingat dalam hidup ini sebuah kesuksesan adalah dambaan setiap orang akan tetapi banyak orang yang justru keliru mempersepsikan kesuksesan itu sehingga banyak dari mereka yang salah melangkah
Banyak orang yang berangapan bahwa harta benda adalah indikator sukses dalam hidup, karena itu maka mereka lantas berlomba-lomba mencarinya tanpa memperhatikan kosep halal atau haram. Begitu juga tidak sedikit orang yang percaya kalau gelar adalah sumber kebahagiaan padahal dalam proses menggapainya sudah banyak bukti terjadinya berbagai kecurangan, misalnya saja mencontek, tindakan plagiat atau banyak hal lain.
Bukan hanya itu, ketika semua itu sudah didapat mereka juga akan mati-matian mempertahankannya. Perbuatan inilah yang disindir oleh Rasululah dalam sebuah hadis, di sana beliau mengatakan sesuatu yang intinya manusia akan bersikap rakus pada kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat.
Lalu bagaimana dengan harta benda? Banyak manusia yang kerjanya menumpuk-numpuk harta benda dan takut kehilangannya, padahal Allah sudah jelas-jelas melarang tindakan ini, salah satu larangannya bisa kita lihat dalam Al-Quran
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah : 188 )
Begitupun dalam dunia akademik, berapa banyak kasus yang pernah kita dengar tentang mengklaim hasil karya seseorang. Padahal menurut agama Islam, indikator sukses adalah orang yang mendapatkan harta dan jabatan dengan cara transparan dan jujur, jadi agama Islam menekankan proses mendapatkannya. Bukan semata-mata hasil yang dicapai.
*****
Dalam kehidupan modern, bila kita perhatikan hampir semua indikator kesuksesan yang kita bahas di awal tadi harus digapai lewat sebuah kompetisi, dan sebuah kompetisi digapai lewat mengalahkan orang lain. Inti dari kompetisi adalah usaha melawan dan membuktikan diri melebihi orang lain, meski sebenarnya sebuah kompetisi adalah proses sosial dimana individu yang sama sedang berusaha mencapai tujuan yang sama.
Dalam bentuk sederhana kompetisi bisa kelihatan terbuka seperti pertandingan olahraga, cerdas cermat, MTQ, atau pemilu. Namun dalam kompetisi tetap saja muncul persaingan. Kadang sebuah kompetisi mampu mempermainkan psikologi manusia. Membuat manusai itu kehilangan akal budi.
Itulah titik terendah sebuah kompetisi, ketika manusia sudah mencapai tahapan kehilangan akal budi, hilangnya rasa sosial, dan sebagainya hingga bila dicontohkan dalam bidang akademik, misalnya saja ada calon mahasiswa yang bisa bangga meski masuk perguruan tinggi lewat ijazah palsu.
Sebenarnya yang bernama kompetisi itu secara tidak sadar sudah ditanamkan kepada kita sejak kecil, akhirnya anak selalu dipecut agar jadi yang terbaik. Lalu seperti halnya kompetisi dimanapun juga, selalu ada yang namanya pihak menang dan kalah. Seperti umumnya juga pihak yang kalah akan merasa diri terluka kadang penyembuhan luka dan kekecewaan itu akan berlangsung lama.
Tapi di balik itu sebuah kompetisi juga bisa berfungsi positif untuk menjadi pendorong masyarakat mencapai level yang tinggi, sebab kompetisi mendorong seseorang untuk membuat penemuan baru dan mengejar posisi yang terbaik. Bahkan dalam Islam pun diajari utnuk ebrkompetisi, berlomba-lomba daam berbuat baik.
Tapi ada dua hal yang perlu diwaspadai dalam sebuah kompetisi, perlombaan yang kita ikuti itu termasuk di dalam kompetisi yang mana? Sebab ada dua jenis kompetisi yaitu :
- Kompetisi produktif : kompetisi yang pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang baik
- Komeptisi kontra produktif : kompetisi yang kelewat batas dan menimbulkan ekses merugikan pihak lain
Jenis kompetisi yang kedua inilah yang sering terjadi dalam kehidupan bangsa kita , yang paling nampak adalah dalam bidang politik dan ekonomi. Padahal sebenarnya Allah sudah menyediakan segala sesuatunya untuk kita, seperti yang terdapat dalam ayat ini :
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim : 34)
Karena itu janji Alah, maka sebenarnya berkompetisi itu tetap harus dilakukan tapi kita tidak perlu saling merugikan dalam sebuah kompetisi. Sebab ada satu sikap yang paling penting, yaitu ketika menjadi apapun kita akan melakukan sesuatu itu dengan sebaik-baiknya
Apalagi dalam Islam sebuah kompetisi pada akhirnya bukan berarti harta benda tapi pengumpulan amal shaleh. Inilah yang kelak akan membedakan peringkat kita di hadapan Allah. Sebab Allah pasti akan memberikan ganjaran pahala yang berbeda-beda sesuai peringkat kita itu, dan begitulah akhirnya seorang mukmin yang sejati.
Disarikan dari Ceramah Jumat, 19 Maret 2010 oleh Ir. M. Akmasj Rahman, MSc
![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)



![Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012] Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/05/Asrama-Salman-ITB-50x50.jpg)



![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)