Banjir di daerah hilir Kota Bandung sudah menjadi langganan setiap kali hujan deras mengguyur. Air mengalir deras dari daerah hulu, membentuk sungai-sungai kecil di jalan-jalan. Tak jarang lubang-lubang di jalan jadi tidak kelihatan karena tertutup air hingga mencelakakan pengguna jalan. Jalan yang masih bagus pun jadi cepat rusak karena erosi.
Selayaknya kita sadari ini merupakan permasalahan yang membutuhkan partisipasi bersama dalam penyelesaiannya. Pada Jumat (19/3), Dr. Agung Wiyono, dalam dikusi terbuka yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian Islam (LPI) Salman ITB memaparkan solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan banjir ini. Solusi tersebut berupa pembuatan kolam taman kota.
Diskusi yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Air Dunia ini mencoba menelaah permasalahan-permasalahan air yang ada. Ketika hujan besar air meluap, mestinya tiap pemukiman didesain memiliki penampungan tersendiri untuk menampung air hujan dari saluran-saluran air rumah. Penampungan ini berupa kolam di taman atau daerah terbuka yang ada di pemukiman. Ukuran kolam ini bisa dibuat dengan menyesuaikan perhitungan curah hujan dan berapa luas pemukimannya.
Bermanfaat Saat Kemarau
Pemerintah diharapkan dapat mendorong pemukiman-pemukiman untuk memiliki sistem drainase ramah lingkungan. Misal daerah resapan yang kecil-kecil di halaman rumah menampung 1 kubik air, maka 1.000 rumah sudah 1.000 kubik.
Kemudian misalnya kolam di pemukiman juga menampung 100 kubik air. Sehingga air tidak langsung meluap menuju saluran primer (sungai), tapi ditahan dulu. “Kalau setiap pemukiman punya sistem ini akan lebih banyak lagi air yang bisa ditampung. Ditambah lagi kalau di ruang terbuka hijau seperti di taman ada kolam juga,” kata Agung.
Kolam taman kota didesain untuk menampung air ketika musim hujan. Pada saat ditampung, air juga akan meresap ke tanah sehingga air tanah naik. Dengan begitu ketika musim kemarau air tanah masih cukup tinggi jadi sumur-sumur masih ada airnya. “Begitu konsepnya, jadi kolam ini bermanfaat ketika musim hujan, juga ketika musim kemarau,” jelas Dosen Teknik Sipil ITB ini.
Masih Kalah
Keberadaan kolam taman tentu erat kaitannya dengan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). RTH dirasa masih kurang jumlah lahannya. Idealnya luas RTH harus mencakup 20 persen dari total luas Kota Bandung. “Untuk RTH saja kita banyak kalah dengan mall-mall,” ujar Agung.
Lebih lanjut Agung menjelaskan, pemerintah harus lebih kuat lagi, sehingga lahan untuk RTH tidak bisa direbut utuk kepentingan pelaku bisnis. Agung juga mengungkapkan pernah menyampaikan konsep kolam taman kota ini kepada pihak pemerintah dalam bentuk konsultasi-konsultasi. “Tapi kita kalah dengan politik ekonomi.”

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

