Ketika Biaya Jadi Penghambat untuk Kuliah…

Perjuangan untuk bisa kuliah di perguruan tinggi memang tak mudah. Selain faktor kemampuan akademis, faktor biaya pun bukan hal yang begitu saja bisa diabaikan. Bahkan tak jarang menjadi penghambat utama sebagian lulusan SMA di Indonesia untuk menikmati bangku kuliah.

Hal inilah yang sempat dirasakan oleh Hani Ramadhan, peserta Learning Camp 2010 asal SMA Negeri 1 Sindang, Indramayu. “Awalnya saya takut cita-cita saya untuk kuliah di ITB tidak akan tercapai,” tutur anak pertama dari 3 bersaudara ini.

"Kalau itu yang terbaik, Insya Allah, yakin!" tekad Hani.

"Kalau itu yang terbaik, Insya Allah, yakin!" tekad Hani.

“Bapak saya cuman jualan sate. Bisa makan saja udah syukur. Tapi untuk kuliah (di ITB), nggak tahu dari mana biayanya,” ungkap Hani saat ditemui di asrama Learning Camp, Kamis, 10 Maret 2010 lalu.

Sejujurnya, si jenius kelahiran 2 April 1992 ini ingin memajukan Jawa Barat dengan bercita-cita menjadi General Manager Pertamina. “Saya pengen pegang (kilang minyak) Balongan (Indramayu),” angannya. “Tapi takut nggak kesampean (karena tidak ada biaya). Akhirnya cita-cita saya dialihkan ke UPI (Universitas Pendidikan Indonesia),” lanjut Hani. Rencana berkuliah di UPI sendiri Hani putuskan agar dirinya tetap mampu menikmati kuliah dengan biaya semurah mungkin.

Namun, beruntung Hani lolos sebagai calon penerima Beasiswa Pelopor. “Alhamdulillah, ada kemudahan (untuk bisa kuliah di ITB),” tandas penggemar Fisika, Matematika, dan Kimia ini. Dengan kemudahan ini pula, Hani hanya perlu fokus menghadapi Ujian Saringan Mandiri (USM) ITB tanpa harus terbebani masalah biaya kuliah lagi.

Lebih lanjut, siswa yang bercita-cita masuk Fakultas Teknologi Industri ini, kagum dengan maraknya aktivitas di ITB. “Kayanya enak masuk ITB. Banyak kegiatannya,” tandasnya haru. Bahkan, siswa yang biasa menggantikan guru untuk mengajar di kelas ini, ingin sekali aktif di Masjid Salman ITB. “Di Salman juga asik. Kegiatannya juga banyak,” tandas Hani.

Ketika ditanya keyakinannya untuk bisa masuk ITB, siswa yang selalu mendapatkan rangking 1 selama 2 tahun terakhir ini, mengaku sangat yakin. “Kalau itu yang terbaik, Insya Allah, yakin!” tekad remaja yang bercita-cita untuk mengajar anak SMA ketika telah kuliah kelak.

Kesulitan untuk bisa kuliah juga diungkapkan oleh Rahma Muliawati, peserta Learning Camp 2010 asal SMA Negeri 1 Pabuaran, Subang. Dara kelahiran 10 Agustus 1992 ini mengaku pesimis bisa kuliah. Niatnya untuk kuliah, terganjal bukan hanya oleh biaya kuliah yang sudah kepalang tinggi, tetapi juga oleh kurangnya dukungan dari keluarga besarnya.

“Karena keluarga saya dari kampung, mereka memandang sebelah mata terhadap pendidikan,” ungkap Rahma. Bahkan, keluarga besarnya pernah mempertanyakan pentingnya meneruskan pendidikan hingga bangku perguruan tinggi. “Di mata mereka (keluarga besarnya) pendidikan bukanlah hal penting. Asal bisa cari uang, sudah cukup,” tutur pengajar les anak SD ini.

"Saya ingin membuktikan kalau pandangan mereka (keluarga besarnya) salah," tekad Rahma.

"Saya ingin membuktikan kalau pandangan mereka (keluarga besarnya) salah," tekad Rahma.

Namun, Rahma tetap optimis kuliah. “Saya ingin membuktikan kalau pandangan mereka (keluarga besarnya) salah,” tekad Rahma. Meskipun ayahnya hanya seorang petani yang selalu serba kekurangan secara ekonomi, Rahma yakin bisa meraih cita-citanya.

Benar saja. Keyakinan Rahma sedikit demi sedikit mulai terwujud. Anak bungsu dari 4 bersaudara ini berhasil lolos sebagai calon penerima Beasiswa Pelopor tahun 2010.

Ketika ditanya jurusan yang akan dipilih kelak, Rahma berharap bisa masuk Farmasi ITB. Rahma bercita-cita untuk membangun klinik besar di kampungnya. “Saya ingin membantu orang-orang kurang mampu dalam bidang kesehatan,” angan gadis yang seringkali rindu orang tua selama di asrama Learning Camp 2010.

Selain suka dengan hal-hal bersifat medis, cita-cita Rahma salah satunya juga hadir lantaran kakak pertamanya mengalami kecelakaan hingga lumpuh dan tak bisa jalan. Ketika itu, kakaknya sudah hampir merampungkan kuliahnya. Kakaknya sendiri adalah penerima beasiswa dan lulusan sarjana peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung. Hingga saat ini, kakak pertamanya tidak kunjung sembuh lantaran tidak mendapatkan pengobatan yang memadai lantaran faktor biaya.

Rahma berharap, sepulangnya ke kampung halamannya, penyuka pelajaran Fisika ini bisa memberikan senyum terindah untuk orang tua serta saudara-saudara kandungnya.

2 total comments on this postSubmit yours
  1. hay..
    assalamualikum…
    nama aku resti…
    aku masih kelas XII sekarang…
    tahun depan insya allah masuk kuliah…
    nah., aku takut kalo nanti aku kuliah , akan hbsin biaya gede…
    gimana sih bisa dapat beasiswa pelopor itu??
    terimakasih..

  2. HANI RAMADHAN !!! Dia Sahabat saya…

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.