Apa Kabar Film Indonesia?

Beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan dari Festival Film Bandung untuk menghadiri  suatu perayaan Hari Film Nasional  yang bertajuk Diskusi dan Pemutaran Film Tempo Doeloe di bioskop Regent.  Hari Film Nasional selalu dirayakanb oleh para insan perfilman setiap tanggal 30 Maret.  Dua film legendaris yang akan diputar berjudul “Macan Kemayoran” dan “Pareh”.  Setelah pemutaran film akan ada diskusi yang menghadirkan Dede Yusuf selaku Wakil Gubernur Jawa Barat dan Gotot Prakoso sebagai Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

Sepuluh hari sebelumnya, saya juga mendapat undangan melalui email dari Yayasan Komunitas Film Independen (Konfiden) untuk menghadiri pemutaran film “Three Idiots” di Blitz Megaplex, Parisj van Java.   Menurut keterangan yang tertera di undangan, film ini menjadi Film block buster dan box office nomor 1 di India dan sudah 90 hari diputar di jaringan bisokop digital itu, suatu prestasi yang tentu mengagumkan.

Saya tidak akan membicarakanfilm Bollywood ini yang secara cerdas dan jenaka mengkritik institusi pendidikan.  Saya hanya ingin membandingkan betapa film di India telah menjadi salah satu primadona yang mendunia, bahkan sudah mengancam Hollywood.  Bertolak belakang dengan di negeri ini, betapa film masih dianggap sebagai komoditi semata, yang lebih banyak mengumbar sensasi murahan dan selera rendah.

Di hari-hari ini, kita mungkin  sudah muak melihat poster-poster film Indonesia di bioskop.  Jumlahnya memang sudah bisa menyaingi film-film impor.  Tapi dari tema cerita yang ditawarkan sungguh tak ada yang bisa memberikan pencerahan.

Beberapa tahun yang lalu kita cukup berbangga dengan keberhasilan “Laskar pelangi”, film karya Riri Riza, merajai bioskop-bioskopdi seluruh tanah air.  Kita menyaksikan antrian panjang di depan penjual tiket, yang tidak hanya didominasi para remaja tapi juga anak-anak dan orang tua.  Di dalam bioskop kita bisa merasakan atmosfer keharuan, bukan semata karena cerita filmnya yang menyentuh, tapi juga dikarenakan keharuan atas pencapaian anak bangsa atas sebuah karya seni yang monumental.  Saya masih ingat waktu keluar dari bioskop setelah menonton film ini, rasanya masih tak percaya bahwa saya baru saja selesai menonton film Indonesia.

Saya memang tak sering menonton ke bioskop.  Apalagi menonton film Indonesia di bioskop.  Tapi apa yang saya rasakan beberapa tahun yang lalu, kini rasanya sulit untuk bisa terwujud kembali.  Ketika undangan datang untuk menonton film “Three Idiots” tadi, saya pun tak bisa menampik rasa prihatin yang mengemuka.  Prihatin karena kita belum juga berhasil keluar dari lingkaran permasalahan klasik film Indonesia.

Menyaksikan film India di bioskop juga belum pernah saya lakukan sebelumnya.  Durasi film yang panjang dan adegan tarian serta nyanyian yang sudah menjadi pakem resmi film India, sempat membuat saya surut untuk menghadiri undangan tersebut.  Ketika akhirnya saya batal menonton film itu, bukan karena saya tidak tertarik.  Saya sangat tertarik dan sempat membatalkan beberapa janji untuk bisa datang ke bioskop.  Tapi ketika saya tau bahwa film itu diputar pukul 3 sore dan baru berakhir setelah maghrib, saya pun tak jadi menonton.

Tapi menurut teman saya yang akhirnya berhasil menonton, film yang mencoba mengupas makna sejati sebuah institusi pendidikan, khususnya universitas ini, ternyata mampu memikat hatinya.  Bahkan istrinya yang awalnya mempunyai ‘kecurigaan’ yang sama dengan saya, menyangkut durasi dan adegan tarian, ternyata bisa menikmati film ini sampai tuntas.  Ada pula saudara saya yang menyesalkan kenapa tiket saya tak diberikan saja untuknya.  Saudara saya itu sudah menonton film ini lewat DVD bajakan, tapi saat tau ada tiket gratis untuk menonton di bisokop dia sepertinya tak merasa rugi untuk kembali menontonnya.

Film memang bukan sekadar hiburan.  Film sudah menjadi salah satu parameter tingginya peradaban suatu bangsa.  Bila kita melihat film-film yang dihasilkan oleh negara-negara maju dunia, seperti Jerman atau Jepang misalnya, kita pasti akan menemukan suatu kualitas yang menjadi cermin pencapaian mereka akan pengetahuan, teknologi, dan seni.

Kembali ke permasalahan film Indonesia, saya belum tau apakah yang akan dibicarakan dalam diskusi film yang diadakan Festival Film Bandung besok.  Saya tidak mau berprasangka buruk.  Tapi dari setiap diskusi film yang pernah saya ikuti, ujung-ujungnya adalah pertanyaan yang klise, bagaimana visi pemerintah atas perfilman nasional.  Karena tanpa kejelasan sikap pemerintah, agak mustahil mengharapkan film Indonesia dapat menjadi salah satu ikon peradaban nasional.

iQbal Alfajri, S.Sn – Pembuat film, tinggal di Bandung

*

*

Top