Pendidikan Adalah Ujung Tombak Perjuangan

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-Hujuraat : 14)

Syeikh Rasyid Ridla, seorang pemimpin dan penganjur Islam yang terkenal, ia berkata : “ Tidak ada keselamatan tanpa da’wah, dan tidak ada da’wah tanpa hujjah”.

Maksudnya, menerangkan suatu perkara sehingga dapat dipahami dengan baik. Tidak mungkin melahirkan amal-amal shaleh apabila tidak melalui sarana pendidikan (dakwah) yang sempurna. Apalagi mengingat keadaan yang sangat parah seperti sekarang ini: rasa kemanusiaan sudah hilang, cita-cita luhur (idealisme) sudah sirna karena pengaruh materi, kedudukan, dan lain sebagianya.

Maka keadaan seperti ini harus cepat diperbaiki kalau kita benar-benar ingin hidup dalam suatu negara yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, kemanusia-an yang adil dan beradab, bersaudara dan bersatu serta berkeadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kata Pendidikan, dikenal dalam Islam dengan kata Tarbiyah. Tarbiyah berasal dari kata Rabbun. Artinya: Tidaklah dinamakan Pendidikan dalam Islam kalau pelaksanaannya tidak terkait dengan unsur ke-Tuhan-an (Agama Islam).

Maka Tujuan Pendidikan Islam adalah supaya manusia dalam hidupnya melahirkan amal-amal shaleh yang bersumber dari ajaran Islam sebagai tanda bakti seorang makhluk ter-hadap Khaliqnya.

Allah SWT berfirman :
“Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Pendidikan yang kita saksikan sekarang ini hampir di mana-mana hanyalah merupakan Latihan Keterampilan. Mengisi otak manusia dengan bermacam-macam bidang ilmu pengetahuan (science dan teknologi) untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam bagi kepentingan lahiriyah, sedangkan rohani dibiarkan hampa, kosong tidak berisi. Maka lahirlah manusia-manusia baru yang dengan otaknya terlatih dapat me-ngarungi angkasa raya, tetapi mereka kehilangan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa memahami lagi dengan baik apa arti hidup yang sesungguhnya.

Hidup manusia mengalami erosi, gersang, kering. Hati mereka menjadi garang, siap setiap saat meng-hancurkan segala apa yang ada di hadapan mereka. Hidup mereka ke-hilangan keseimbangan dan bisa ber-buat apa saja. Mereka kehilangan karunia Allah yang sangat berharga dalam hidup ini, yaitu hati nurani, sehingga dapat berbuat apa saja dengan tidak ada perasaan malu sedikitpun.

Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu yang sekian banyak dikumpulkannya.

Ada pepatah menyatakan : “Semakin pintar manusia, semakin buas dia!”.

Yaitu orang-orang yang memutuskan hubungan dengan Allah, hablun minallah dan dengan sendirinya akan putuslah hubungannya dengan sesama manusia, hablun minan-naas.

Hati akan mati apabila tidak lagi mendapat siraman Nur Ilahy. Maka para ‘Ulama berpesan : “Hadapkan perhatianmu kepada ruhanimu. Penuhi segala kebutuhannya. Engkau dinamakan insan bukan karena jasadmu, tetapi karena ruhanimu!”.

Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak (mau) beriman kepada akhirat Kami perlihatkan kepada mereka amal-amal mereka sebagai sesuatu yang indah, kemudian mereka mengembara (selama hidup di dunia) dalam kesesatan.” (QS. An-Naml : 4)

Inti dari tujuan pendidikan ialah, Tertanamnya Kalimat Tauhid, Laa Ilaha Illallah dalam dada tiap-tiap mu’min, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 24 dan 25 : seperti pohon yang baik (subur) yang sifatnya :

  1. Akarnya teguh, tidak dapat dipaling-kan dari kebenaran, Istiqamah.
  2. Ranting, cabang dan daun-daunnya menjulang ke langit tinggi. Berjuang sekuat tenaga dalam mengabdi kepada Allah SWT karena ingin mendapatkan ridla-Nya. Dengan daunnya yang rindang, pohon itu memberi kenyamanan kepada burung-burung yang bersarang di tempat itu, terhindar dari sengatan sinar matahari. Orang yang hatinya diliputi oleh rasa kasih sayang.
  3. Dengan buahnya yang tidak ada henti-hentinya setiap musim mem-berikan sumbangan yang amat ber-harga bagi manusia dan binatang-binatang sekelilingnya, hidupnya bermanfaat.

Alangkah indahnya hidup seorang mu’min ! (Inilah tujuan dari pendidikan Islam).

Tidaklah mudah mendidik manusia menjadi seorang mu’min, kalau tidak ditangani oleh ahli-ahlinya yang bertaqwa kepada Allah SWT. Apa lagi dalam keadaan seperti zaman sekarang ini sebagaimana digambar-kan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits :

Diantara tanda-tanda kiamat (kehancuran) ialah :

  1. Hilangnya ilmu agama
  2. Kebodohan merajalela, tidak tahu halal-haram.
  3. Minuman keras dan
  4. Perzinaan dilakukan dengan terang-terangan (HR. Muslim).

Tidaklah mudah dalam keadaan seperti itu membina manusia-manusia menjadi mu’min dalam arti kata yang sesungguhnya.

Yang dimaksud hilangnya ilmu agama ialah dengan wafatnya para ‘ulama. Yang dimaksud dengan wafatnya para ‘ulama di sini ialah bisa lahiriyah dan bisa juga ruhaniyah.

‘Ulama tidak berkurang, malahan bertambah banyak. Sekarang artis-artis pun ikut berda’wah terutama melalui TV dengan melawak. Para ‘ulama berusaha pula menjadi pelawak, yang pembicaraannya mengocok perut, diiringi oleh para pendengar dengan tertawa berderai-derai. Dapatkah da’wah yang demikian itu membina pribadi-pribadi mu’min? Saya sendiri merasa agama dilecehkan?

Maka disinilah terasa pentingnya Lembaga Pendidikan Islam dalam menanamkan ruh agama di kalangan ummat. Tugas pendidikan adalah tugas yang sulit.

Oleh karena itu, maka harus ditangani dengan sungguh-sungguh, dengan keikhlasan disamping usaha terus menerus meningkatkan kualitas dalam segala bidang.

Usaha yang demikian tentu jauh dari publisitas, tetapi bagi seorang mu’min landasan beramal adalah : “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah merupakan baktiku bagi Allah SWT!”

Pernah dimuat di Suara Istiqamah pada Jumadil Tsani 1417 H/Nopember 1996.


About author
2 total comments on this postSubmit yours
  1. I really liked your weblog, you supply some really great details on this weblog.

  2. “Para ulama berusaha pula menjadi pelawak, yang pembicaraannya mengocok perut, diiringi oleh para pendengar dengan tertawa berderai-derai. Dapatkah da’wah yang demikian itu membina pribadi-pribadi mu’min? Saya sendiri merasa agama dilecehkan?”

    Berdakwah banyak caranya. Tiap segmen masyarakat ada triknya. Selama para ulama itu tidak menertawakan islam itu sendiri, tidak ada masalah. Jika dengan cara itu masyarakat semakin memahami islam, bagus! Lebih baik daripada menggunakan bahasa-bahasa melangit yang hanya dipahami oleh orang-orang langit.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.