Pada satu saat, Abu Sofyan yang merupakan sepupu Rasululah, mengungkapkan keheranannya di hadapan teman-temannya. Dia mengaku sudah mengenal Rasulullah sejak lama. Tapi pada saat telah diangkat menjadi Rasul, ada perubahan yang dia tidak mengerti. Yaitu siapapun yang memiliki kesempatan bicara dengan Rasulullah, atau hanya melakukan transaksi jual beli, atau apapun yang memungkinkan untuk berhubungan langsung dengan Rasulullah, entah kenapa seperti terpikat dan biasanya langsung mau masuk ke dalam sistem Rasulullah, maksudnya mungkin adalah sistem kehidupan Rasulullah yang berlandaskan Islam.
Menurut pandangan Abu Sofyan, setiap orang yang sudah masuk ke dalam Islam maka otomatis orang itu bersedia mengorbankan apapun. Bahkan termasuk harta, raga, bahkan jiwanya. Inilah yang mengherankan Abu Sofyan.
Dari sini terlihat kalau Abu Sofyan tidak memahami konsep hati dan iman. Sebab bila seseorang mengikuti konsep orang lain, biasanya ada tiga hal yang menjadi penyebabnya, yaitu:
- Pikiran: Bila ini yang dijadikan alasan, maka yang terjadi adalah transaksi untung rugi yang penuh perhitungan teliti
- Rasa: Bila sebuah rasa dikedepankan, maka yang keluar adalah rasa malu, rasa berhutang budi, atau rasa senang pada orang yang bersangkutan
- Hati: ini adalah level tertinggi dalam sebuah konsep “pengikutâ€Â
Jadi jelas, dalam konsep pemikiran Abu Sofyan, hanya ada 2 konsep pengikut, yaitu pikiran dan rasa. Padahal kita memilih agama Islam selalu dengan konsep hati. Sebab begitu hati seseorang bersambung, maka orang tersebut akan suka melakukan segala yang diperintahkan oleh Allah lewat Rasulullah.
Misalnya ketika turun ayat untuk berperang. Dengan tidak berpikir untung rugi, para sahabat langsung berbaris mendaftarkan diri. Bahkan tidak hanya dirinya, tapi juga keluarga dan anak-anaknya. Bahkan seolah tidak cukup, seluruh hartanya ikut diserahkan juga.
Selanjutnya, keheranan Abu Sofyan ini baru terjawab ketika dia masuk Islam. Ini terjadi saat penaklukan kota Mekkah. Dia meninggal pada usia 90 tahun dengan tenang dan tidak lagi diliputi rasa kepenasaran
Selanjutnya mari kita lihat dulu satu ayat di bawah ini:
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.†(QS Ali Imran : 146)
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bila kita merasa sudah masuk Islam yang artinya sudah mengikuti perintah Allah dan Rasulullah. Hendaknya kita memeriksa apakah pilihan kita ini karena pikiran, rasa, atau benar-benar karena keimanan di hati kita? Untuk mengetahui hal ini, ada cara untuk memeriksanya. Sebab setidaknya ada tiga tanda orang yang benar-benar memilih Islam dengan iman di hatinya. Semuanya terjelaskan pada ayat yang sudah kita baca tadi, yaitu:
… tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah…
Jadi yang pertama adalah, ketika diberi musibah kita justru akan lebih merasa kuat. Musibah tidak pernah dijadikan jalan bagi kita untuk mundur atau bahkan melemahkan iman. Musibah akan dianggap sebagai ujian yang nantinya akan diberi hadiah dengan keimanan yang lebih kuat lagi, lalu yang kedua adalah:
…dan tidak lesu…
Artinya kita akan memelihara fisik kita dengan baik hingga kita akan tumbuh menjadi orang yang memiliki fisik kuat. Dengan fisik yang kuat, kita akan menjadi pribadi yang tangguh di depan musuh, dan kita akan selalu siap kapanpun tenaga kita dibutuhkan.
… dan tidak (pula) menyerah…
Hal ketiga adalah kita tidak mudah menyerah pada tantangan. Ketika menghadapi tantangan, kita malah akan semakin berani menghadapinya. Sebuah tantangan disadari sebagai pelajaran baru dan sebuah tembok yang harus dilewati, bukan membuat kita bersurut diri.
Tentu di luar ketiga sikap itu, ada satu hal lagi, yaitu kita tidak melupakan kekuatan doa. Karena doa adalah kunci pembuka segala pintu rahmat dan ampunan dari Allah.
Disarikan dari Ceramah Jumat, 5 Februari 2010 oleh Drs. H. Saefudaulah Mehir






![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)