Tata Alas Kaki, Cermin Khusyuk Sedari Luar Masjid

Sabtu pagi, dari jauh dua awak Salman, Awang dan Idar, terlihat menggerakkan tongkat panjang. Sepertinya sedang memungut sesuatu. Setelah dilihat dari dekat, ternyata keduanya sedang menata sandal dan sepatu jamaah. Alas kaki itu ditata agar terlihat rapi, tidak acak-acakan.

Setiap orang yang akan memasuki masjid, memang harus menanggalkan alas kakinya. Tujuannya agar kesucian masjid terpelihara, sehingga jamaah akan lebih khusyuk saat melaksanakan shalat.

Namun banyak yang lupa bahwa kekhusyukan itu harus dimulai dari luar masjid. Kerapihan dan keserasian harus sudah mulai terlihat di sekeliling masjid. Hal yang paling sering mengganggu pemandangan adalah soal sepatu dan sandal.

Di selasar ada tempat penitipan sepatu dan sandal dengan kapasitas 400 pasang. Sedangkan jamaah jauh lebih banyak. Bahkan pada saat shalat jumat, jamaah Masjid Salman ITB bisa mencapai 3000 orang. Alhasil, banyak alas kaki yang ditaruh sembarangan di sekeliling masjid. Kesan acak-acakan pun tidak bisa terhindarkan.

Sejak dua tahun lalu, Salman mulai menata alas kaki ini. “Semula kami membereskan sepatu ini sambil jongkok atau menggunakan kaki. Namun cukup melelahkan dan pegal. Akhirnya kami menggunakan tongkat,” ujar Awang, bujangan asal Ciamis Jawa Barat ini.

Mahfudin (31), seorang penduduk Batujajar menyatakan senang dengan pelayanan ini. Bersama anak dan istrinya, dia berekreasi ke Kebun Binatang yang letaknya tak jauh dari Masjid Salman ITB. “Saya jadi malu sendiri. Tadinya saya menggeletakkan begitu saja sandal saya. Eh, begitu keluar dari masjid, sandal saya sudah tertata rapi,” ungkapnya.

Memang Awang dan Idar akan selalu setia menata alas kaki jamaah. “Namun alangkah lebih baik lagi kalau jamaah sendiri yang menata alas kakinya dengan tertib,” ujar Iqbal Alfajri, manajer Salman.***

About author
1 comment on this postSubmit yours
  1. Dalam sebuah dalam tradisi Zen, diceritakan seorang guru Zen yang baru menyelesaikan belajar tentang konsentrasi selama sepuluh tahun di sebuah biara, berencana akan kembali ke biaranya sendiri.

    Sebelum pulang, dia berencana akan menemui Sang Guru untuk pamit dan meminta nasihat terakhir.

    Setelah melepaskan sandal jerami dan payungnya di luar, guru Zen ini kemudian berjalan masuk ke dalam balairung untuk menemui Sang Guru.

    Setelah menceritakan maksudnya, Sang Guru kemudian bertanya: “Di sebelah kanan atau kiri sandal, payung engkau letakkan?”

    Guru Zen ini tersentak dan tidak dapat menjawab. Sang Guru kemudian memintanya kembali belajar sepuluh tahun lagi.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.