“Yang paling mengesankan adalah ketika menerima e-mail konsep acara dari teman-teman pada pukul 2 dini hari,” kenang Faizal ketika ditanya kesan menjadi panitia SaBiT 2010. Meskipun konsep acara SaBiT adalah fun, persiapannya tidak main-main. Sejak Desember 2009 para panitia sudah berkoalisi dan bergerak. Rapat rutin diadakan setiap hari usai Shubuh dan setelah Isya.
Bagi pembaca yang merasakan atau pernah merasakan perjuangan menjadi panitia di kemahasiswaan, berdiskusi dan berpeluh hingga dini hari adalah suatu hal biasa. Namun tetap saja, jawaban polos Faizal itu serasa membawa kembali memori, bukan?
Beginilah takdir sekaligus nasib kepanitiaan mahasiswa. Mahasiswa berada di strata yang ‘nangggung’ di masyarakat. Dipuja karena idealismenya. Dijunjung sebagai pembawa aspirasi rakyat. Disegani karena semangatnya. Namun tidak memiliki jabatan profesional. Profesional? “Seorang teman saya pernah berkata bahwa profesional adalah SDM plus uang,” kata Faizal, “Tapi saya cuma mengutip, tidak mengikuti paham itu,” lanjutnya.
Namun absennya faktor materilah yang membedakan profesionalisme mahasiswa dan menjadi bukti idealisme mahasiswa. Lepas dari kemampuan tiap-tiap orang tua mereka untuk memberikan dukungan finansial, kemauan mahasiswa untuk terlibat dalam kepanitiaan non-profit semacam itu pada zaman yang semakin matre dan hedonis, adalah suatu hal yang patut diacungi jempol.
Alasan Faizal menjadi Ketua Panitia adalah sederhana, “The leader is the servant. Dengan saya memimpin, saya bisa melayani lebih baik.” Eka menambahkan, “Suka duka pasti ada, tetapi semua perjuangan itu terbayar ketika melihat peserta enjoy dan acara sukses.” Jawaban dan niat bersahaja semacam inilah yang kemudian menimbulkan istilah supervolunteer.
There’s no growth without pain and conflict
There’s no loss which can not lead to gain
Untuk mencapai keputusan dan kesediaan berkorban tentu pernah menimbulkan konflik dalam diri, “Buat apa berkorban sejauh ini?” Ketika kepanitiaan berlangsung, kalimat-kalimat kekecewaan semacam “Kok begini? Kok begitu?” pasti sempat terlontar. Namun pada akhirnya semua itu akan membawa kepada pengembangan diri. Tempaan-tempaan yang menguji niat, hati, mental, dan fisik akan membuat sesorang semakin kuat.
Teman-teman panitia – kepanitiaan apapun itu – jelas menghabiskan waktu dan tenaga yang tidak sedikit demi terselenggaranya acara. Ya, mereka kehilangan waktu dan tenaga, sebagai gantinya mereka mendapatkan sesuatu yang lain.
Mereka sukses mengalokasikan waktu, sumber daya yang paling berharga, untuk hal yang lebih bermakna ketimbang tidur, makan, dan santai. Mereka belajar untuk mempercayai dan dipercayai. Mereka meraih kesempatan untuk mengembangkan soft skill dan karakter. Coba, apalagi yang lebih penting dari seseorang jika bukan karakter dan soft skill?

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

