Ibu, Cermin Majunya Budaya Bangsa

“Surga berada di telapak kaki ibu.”

Dari hadits tersebut, kita dapat lihat bagaimana Islam sebenarnya menempatkan wanita di posisi yang teramat tinggi dan mulia. Sayangnya, akhir-akhir ini penghargaan dan penilaian sebagian masyarakat terhadap wanita mulai bergeser. Misalnya saja, wanita hanya ditempatkan sebagai objek untuk hal-hal negatif.

Perlu kita sadari, pergeseran nilai wanita merupakan awal dari pendegradasian posisi seorang ibu. Apabila seorang wanita sudah diposisikan sebagai objek dan dipandang dengan tidak terhormat dalam suatu masyarakat, hal ini pertanda terjadinya degradasi moral suatu masyarakat. Bagaimanapun juga, seorang wanita, fitrahnya akan menjadi seorang ibu. Tidak menghormati wanita, besar kemungkinannya tidak akan menghormati ibu.

Pergeseran pandangan lainnya adalah penghargaan masyarakat kepada wanita yang mencurahkan waktunya untuk mengasuh anak-anaknya. Biasanya, wanita yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, disebut tidak bekerja. Sedangkan bila ingin disebut bekerja, wanita harus pergi ke kantor.

Secara tidak langsung, pandangan ini merendahkan wanita yang berada di rumah. Padahal sebenarnya dia juga bekerja. Hanya saja penghargaan kerja di dalam rumah berbeda dengan bekerja di kantor.

Namun bukan berarti bekerja di luar rumah itu buruk. Ada yang berpendapat, tidak ada salahnya bekerja di luar jika memang dimaksudkan untuk hal-hal yang baik. Tetapi pandangan yang beredar umum di masyarakat adalah apabila seorang wanita hanya tinggal di rumah membesarkan anak, dianggap tidak bekerja.

Pandangan ini harus dikoreksi. Bagaimanapun juga, ibu yang bekerja di rumah, jika diukur dengan materi, penghasilannya juga besar, bahkan sangat besar. Karena anak yang berasal dari didikan seorang ibu, akan berbeda dengan anak yang tidak dididik langsung oleh ibunya. Dan kualitas itu mahal sekali harganya, bahkan tak ternilai.

Masih berkaitan dengan wanita dan karier. Ada anggapan bahwa, wanita memiliki hak dan kebebasan untuk menampilkan diri, dan memilih karier dan karya. Jadi hal tersebut tidak boleh dihalang-halangi dan bisa melanggar hak asasi manusia apabila menghalangi kebebasan wanita. Pendapat seperti itu memang ada. Hanya perlu disadari, bebas tidak berarti bebas sebebas-bebasnya. Bagaimanapun juga, kebebasan itu membutuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran alami terhadap posisi tiap-tiap individu.

Kedua contoh sederhana di atas merupakan bentuk dari sikap merendahkan nilai mulia dari tugas seorang wanita yang nantinya akan menjadi seorang ibu. Implikasinya, anak juga akan menganggap rendah pengorbanan seorang ibu karena opini yang berkembang di masyarakat, yaitu pandangan tentang seorang ibu yang sekedar mengurus anak di rumah dianggap tidak bekerja.

Pandangan-pandangan ini kemungkinan dibentuk oleh budaya-budaya lain yang sebenarnya tidak cocok dengan nilai-nilai yang kita anut. Budaya-budaya tersebut seolah membawa hal-hal yang membangkitkan antusiasme karena  menawarkan kebebasan dari kungkungan nilai-nilai yang dianggap mengikat pada masa kini. Padahal, bisa jadi sebenarnya hal-hal yang mengikat dan bertahan lama dalam sejarah itu, ternyata memiliki nilai positif juga.

Karena itulah, perlu kita suarakan tanpa kenal lelah bahwa kemuliaan dan harkat dakwah kita pada dasarnya adalah kemuliaan dan harkat seorang ibu. Oleh karena itu, pelecehan harkat dan kemuliaan seorang wanita, berarti juga telah melecehkan harkat dan kemuliaan seorang ibu.

Saya berharap, hal yang seperti ini disadari oleh kita, bangsa yang sedang tumbuh dan mencoba membangun identitas baru dengan cara membanding-bandingkannya dengan bangsa lain. Memang tidak ada salahnya membandingkan dan mencari sparing partner untuk maju, asal yang dilihat adalah negara yang tepat dan benar, tidak semuanya bisa diperbandingkan begitu saja.

Memang tidak ada salahnya meniru negara lain. Karena meniru adalah proses belajar. Tapi yang kita tiru seharusnya hal-hal positif yang dapat memberikan kontribusi untuk bangsa ini agar bisa maju. Maju dalam pengertian mampu memiliki kesempatan untuk bisa menebarkan rahmat dengan lebih luas.

Kita juga harus memiliki rasa percaya diri bahwa nilai-nilai yang kita miliki cukup untuk membekali kita dalam menghadapi tantangan zaman. Menempatkan seorang wanita mulia di posisinya, Insya Allah tidak akan menghalangi kita untuk maju, malah akan membantu kita untuk maju kencang.

Wanita berhak mengenyam pendidikan setinggi-tingginya karena dia bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya nanti. Semakin hebat pendidikan seorang wanita, semakin tangguh pula generasi masa depan yang dididiknya.

Pentingnya Berkhidmat kepada Ibu

Islam menanamkan “Surga terletak di bawah kaki ibu”. Ajaran ini mengandung 2 pengertian. Pertama, ibu berperan penting dalam menentukan perjalanan hidup anak-anaknya kelak. Ibu bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada putra-putrinya supaya mereka nantinya berhak kembali ke tempat asal-usulnya, Surga. Ya, seorang anak akan bisa masuk surga atau neraka, ditentukan oleh seorang ibu. Inilah peran penting yang diemban seorang ibu dalam proses pendidikan generasi yang akan datang.

Pengertian kedua, ukuran seseorang agar selamat dunia dan akhirat serta berhak masuk surga tergantung bagaimana dia mengabdi kepada ibunya. Dua pengertian ini menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk berbuat kebaikan ada di kedua pihak: anak dan ibu. Ketika masih menjadi anak, wajib menghormati ibu. Ketika menjadi orang tua, wajib untuk mengajarkan nilai-nilai positif.

Pengertian pertama tentang tanggung jawab besar ibu untuk mendidik anak-anaknya bisa dibilang tidak perlu ditekankan lagi. Karena fitrah dan sifat alami seorang ibu adalah berharap agar anak-anaknya selamat dunia dan akhirat. Pengertian kedua perlu digarisbawahi, yaitu berkhidmat kepada ibu.

Berkhidmat kepada ibu begitu penting. Sehingga suatu ketika, diriwayatkan ada seorang anak yang menghadap Rasul agar diizinkan ikut berperang. Kemudian Rasul bertanya, “Bagaimana keadaan ibumu?” Dan rupanya anak ini belum cukup berkhidmat kepada ibunya. Rasul pun melarang anak tersebut untuk ikut dan memerintahkan untuk berkhidmat dengan menjaga dan mengasuh ibunya.

Mungkin, bila sang anak telah cukup berkhidmat terhadap ibunya, beliau akan mengizinkan anak itu untuk ikut berperang. Dalam sepenggal kisah tadi, Islam memperlihatkan betapa utamanya kewajiban anak untuk berkhidmat kepada ibunya ketimbang pergi jihad ke medan perang.

Kembali ke Jati Diri Pertiwi

Kembali ke zaman sekarang. Nilai luhur penghormatan terhadap ibu yang dulu merupakan bagian yang tidak terpisahkan, mengalami pelunturan. Kita perlu membangkitkan kembali kesadaran pentingnya peran seorang ibu dan bagaimana seharusnya anak bersikap terhadap ibu.

Sering kita dengar, hanya karena seorang ibu tidak memenuhi permintaan anaknya, anak tega menyakiti ibunya. Ini mengkhawatirkan. Berarti ada sesuatu yang salah. Bisa jadi di dalam rumah sang ibu sudah mendidik dengan baik. Tetapi pengaruh buruk lingkungan di luar merasuk ke dalam diri anak-anak. Sehingga anak-anak memiliki keberanian untuk melanggar batas moral.

Hal ini harus menjadi perhatian kita semua. Pengaruh lingkungan ini bisa dalam bentuk bacaan-bacaan yang tidak baik, film-film yg tidak baik, dan pergaulan yang kurang baik.

Coba kita camkan, durhaka memiliki konsekuensi yang sangat berat. Seseorang yang tidak mendapatkan ridho dari ibunya, apalagi sampai menyakiti, tidak akan selamat. Ketika di dunia, dia akan dirundung kesulitan. Ketika di akhirat, surga enggan menerima. Ya, saya termasuk orang yang percaya akan hal tersebut. Allah pun pernah menyatakan bahwa dosa yang paling disegerakan pembalasannya di dunia adalah dosa terhadap orang tua.

Nilai penghormatan kepada wanita dan ibu seperti itu jelas perlu dipertahankan. Proses peniruan dan sparing partner tidak boleh mengikis nilai-nilai ini. Saya melihat ada bagian-bagian yang salah di dalam proses kita meniru berkaitan dengan posisi wanita. Mungkin termasuk dalam kelompok aliran yang liberal, yang berniat menyetarakan dan membebaskan dalam arti yang seluas-luasnya. Saya kira pandangan ini tidak cocok untuk kita. Dan sungguh tidak ada alasan bahwa bila kita tidak melakukan seperti itu, kita tidak akan maju.

Jika kita bercermin kepada masyarakat jepang, bangsa yang maju, posisi ibu dan wanita sangatlah spesial. Di Amerika Serikat, presiden-presidennya selalu menekankan pentingnya family values, terutama dalam memposisikan kembali ibu dan keluarga yang baik.

Saya melihat bahwa penting bagi wanita untuk menimba ilmu setinggi-tingginya karena ilmu adalah bekal bagi pembangunan generasi berikutnya. Tetapi bukan berarti wanita itu sama dengan pria. Bagaimanapun juga berbeda. Tanggung jawabnya beda, fitrahnya pun berbeda.

Perlu ditegaskan, jangan sampai semangat kita untuk maju, membuat kita melepaskan nilai-nilai yang sebetulnya positif. Siapa tahu, sebenarnya bangsa lain juga ingin meniru kita. Karena itu, jangan lepaskan nilai-nilai itu. Jangan sampai kita yang selama ini memiliki nilai-nilai yang baik, lalu hilang karena salah meniru.

Saatnya kita menganalisis lebih tajam dan berpikir lebih jernih mengenai pandangan kita terhadap peran, posisi, dan kontribusi wanita di dalam bangsa yang sedang membangun ini. Atau dalam bahasa lainnya, bagaimana kita menempatkan ibu.

Karena sekali lagi, wanita identik dengan seorang ibu. Penghargaan kita kepada wanita adalah cerminan penghargaan kita kepada ibu, dan sebaliknya. Bila kita ingin menghargai posisi seorang ibu, kita perlu menghargai wanita. Karena siapapun wanita itu, pada akhirnya, ketika dia berkeluarga, dia akan menjadi seorang ibu.

Disarikan dari wawancara mengenai Wanita dalam Islam bersama Hermawan K Dipojono


3 total comments on this postSubmit yours
  1. Alhamdulillah pagi ini saya dapat tambahan pencerahan tentang Wanita dalam Islam, mohon ijin saya akan sampaikan inti tulisan ini ke murid-murid saya. Terima kasih mas Her

  2. dikampung saya yg ditulis mas Her ini diwujudkan dalam seorang wanita agung bernama “bundo kanduang”. terimakasih mas Her atas pencerahannya.

  3. Subhanallah, Trimakasih mas Her

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.