Bagai pedang bermata dua. Ungkapan tersebut layak dialamatkan kepada salah satu website paling kondang di arena sosialisasi dunia maya masa kini, Facebook. Tak memandang strata sosial, jenis kelamin atau tua mudanya Anda, situs ini telah berhasil membius masyarakat agar memiliki ketergantungan kepadanya. Rendah tingginya ketergantungan tentu tergantung kedewasaan masing-masing dalam mengoperasikannya sesuai kebutuhan.
“Baiknya teknologi digunakan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Bukannya teknologi yang menjadi tujuan utama kita,†ujar Syamril, ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB.
Tujuan hidup yang hakiki, menurut beliau adalah membuat orang lain bahagia.
“Seperti membentuk keluarga saja. Dalam membuat orang lain bahagia kita harus memperhatikan tiga aspek, yaitu sakinah yang berarti ketenangan, mawaddah yang berarti kesenangan, dan yang terakhir ialah warrahmahâ€â€artinya kemenangan,†lanjut Syamril.
Namun terkadang, tujuan hakiki itu akhirnya terabaikan. Tidak sedikit teman-teman kita yang menghabiskan segenap waktunya menggunakan Facebook dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting.
“Sebenarnya boleh saja main game-game yang tersedia di Facebook. Tetapi, seperti kata saya tadi, ingat, jangan sampai teknologi yang menguasai kita,†tutur Syamril menjelaskan.
Sementara itu Jati Raharja, Ketua Umum Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB, berpendapat sebenarnya sah-sah saja menggeje di Facebook seperti memasang status lucu-lucu.
“Hal itu justru semakin memperkuat ukhuwah. Kita menjadi tahu kepribadian unik yang tersembunyi dari teman-teman kita,†tutur Jati.
Mahasiswa Teknik Material ITB angkatan 2006 ini lanjut mengatakan, Facebook sangat berguna untuk networking. Namun ketika dimintai pendapatnya mengenai kegunaan Facebook dalam segi dakwah, Mas Jati, begitu sapaan akrabnya, masih ragu.
“Saya sendiri jarang beraktivitas di Facebook. Jadi tidak tahu menahu tentang perkembangan Facebook dari hari ke hari.â€Â
Facebook dan Pendidikan
Mengenai manfaatnya untuk pendidikan, Syamril mengungkapkan kalau Facebook itu belum digunakan secara optimal.
“Paling kegunaan untuk pendidikannya lebih bersifat inisiatif, belum memiliki sistem. Maksud sistem di sini seperti pengumpulan tugas via Facebook, atau beberapa hal yang menyangkut penggunaan Facebook dimasukkan ke dalam kurikulum,†tutur pengajar yang pernah menjadi guru Fisika di SMA Darul Hikam ini.
Syamril mengatakan, selain meningkatkan kecerdasan kognitif, sebenarnya Facebook juga bisa menjadi ajang mengasah kecerdasan spiritual dan emosional. Beliau mencontohkan gerakan pembebasan Prita Mulyasari di Facebook yang sempat menjamur.
“Gerakan Prita Mulyasari itu lebih kepada membangun empati publik.â€Â
Fenomena yang sungguh memprihatinkan, menurut Syamril, ialah para guru yang menganggap bahwa dirinya bukan guru ketika tidak sedang mengajar.
“Paling parah ketika guru dan muridnya berteman di Facebook, lalu guru tanpa sengaja mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada teman-temannya yang lain lewat Facebook. Murid melihat hal itu ketika sedang ber-Facebook, dan dampaknya murid beranggapan bahwa kata-kata itu merupakan hal yang biasa diungkapkan karena gurunya saja melakukannya,†ujar pria yang menjabat sebagai Direktur LPP Salman semenjak Oktober 2004 ini.
“Dan sang guru berkilah bahwa ketika sedang menggunakan kata-kata itu, dia bukan guru melainkan orang biasa. Padahal seharusnya, guru itu tetaplah menjadi guru dimanapun ia berada. Coba Anda lihat UU no.20 tahun 2005, disitu tertulis bahwa guru dan dosen harus memiliki kompetensi kepribadian atau sosok teladan.â€Â
Di tempat terpisah, Okky Indra Putra, ketua MPA Pembinaan Anak-Anak Salman (PAS) ITB, berpendapat Facebook itu bersifat publik.
“Tetapi sejumlah orang menganggap Facebook sebagai sarana mencurahkan hajat pribadi. Sehingga segala sesuatu yang bersifat pribadi pasti akan ter-expose kepada publik lewat Facebook itu,†ujar pria yang akrab disapa Kak Okky ketika beraktivitas di PAS.
Lebih lanjut, Okky memaparkan bahwa penggunaan bahasa tulisan masyarakat Indonesia masih jauh dibanding penggunaannya dengan bangsa lain.
“Ada sejarahnya. Dulu yang dapat menulis kisah-kisah atau tulisan serupa hanyalah kaum bangsawan dan para pujangga kerajaan. Hal itu terus berlangsung sampai Indonesia mengenal media massa. Nah, ketika semua masyarakat Indonesia dapat menulis secara bebas, mereka kurang lihai menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa tulisan.â€Â
Okky berpendapat sebenarnya Facebook bisa dijadikan sebagai ajang berbagi wawasan jika dipergunakan secara baik.
“Sebenarnya memang belum ada aplikasi tersendiri yang mendukung tentang pendidikan. Tapi di Facebook itu kan ada fasilitas notes. Nah, aplikasi notes itu sangat berguna lho untuk sharing ilmu.â€Â
Selain itu, Okky tidak mempermasalahkan isu mengenai bahwa Facebook itu merupakan produk Zionis.
“Kalau Zionis bisa menggunakan Alquran untuk menghancurkan umat Islam, kenapa tidak jika kita menggunakan Facebook sebagai menghancurkan hegemoni mereka?â€Â
Okky menambahkan, sepertinya bagus jika Facebook diciptakan versi anak-anaknya.  Pria kelahiran Karawang, 24 tahun silam mengatakan yang akan membedakan ialah kontennya dan filter-filter yang ditetapkan oleh yang mengelolanya.
“Lucu juga sepertinya kalau ada semacam Facebook for Kids. Jadi aplikasi-aplikasi yang tersedia berhubungan dengan pendidikan yang berguna untuk menambah pengetahuan adik-adik kita.â€Â
Bulu Hidung
“Ada sebuah filosofi. Udara di sekitar kita kotor, tetapi kita tetap bisa hidup karena ada bulu hidung. Nah bila dihubungkan, Facebook itu sarat akan kegiatan-kegiatan ‘kotor’, tetapi kita diharapkan masih tetap memiliki ‘bulu hidung’ tersendiri untuk menyaring mana yang bermanfaat mana yang tidak bagi kita,†kata Syamril ketika ditanya bagaimana cara menghindari dampak negatif dari Facebook.
Konsultan di lembaga pendidikan Salman Al-Farisi ini mengungkapkan, yang dimaksud dengan ‘bulu hidung’ di sini adalah diri kita sendiri yang berilmu, beriman, dewasa, rasional, tidak latah, dan senantiasa berpikir dengan akal sehat.
“Jadi Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Informatika) sebenarnya tidak terlalu diperlukan jika kita memiliki sifat-sifat di atas. Pelaporan kasus Prita Mulyasari ini sebenarnya menyalahi kaidah Undang-Undang tersebut. UU ITE harusnya dipergunakan ketika ada orang yang memfitnah kepada orang lain atau suatu lembaga. Sedangkan Prita tidak memfitnah, tetapi hanya sebatas mengungkapkan pendapat pribadinya.â€Â
Sebelas-dua belas dengan Syamril, Jati juga berpendapat UU ITE tidak perlu digunakan secara berlebihan, apalagi yang sifatnya lebih ke permasalahan pribadi.
“Semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Menurut saya UU ITE lebih cocok digunakan untuk permasalahan yang berskala besar seperti pencemaran nama baik perusahaan yang berdampak negatif pada bisnis mereka,†ujar pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini.
Syamril juga menegaskan kepada masyarakat sekitar jangan sampai kita itu mabuk teknologi, tetapi kita itu harus melek teknologi.
“Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan ‘Kuasailah dunia, jangan sampai dunia yang menguasaimu’. Pepatah tersebut tampaknya ungkapan ini tepat untuk menjawab fenomena ini,†nasihatnya simpel.







![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)
isil
Monday, 1 March 2010
mhm…akhirnya tulisan tentang facebooknya di publish juga tris..