Piala Dunia 1990, Italia lawan Austria. Beberapa menit sebelum pertandingan usai, striker Italia Salvatore “Toto†Shillaci menyundul umpan lambung Gianlucca Vialli. Bergetarlah jala Austria. Italia menang 1-0 dan lolos ke babak berikutnya.
Setelah pertandingan usai, para Tifosi berarak-arak dengan kendaraaannya masing-masing. Tua-muda, lelaki-perempuan, semuanya menyatu dengan kibaran bendera Italia. Saat itu tidak ada kemarahan bila mobil tersenggol teman, tidak ada gerutuan dari supir trem bila kendaraannya digedor-gedor. Mereka semua bernyanyi, berteriak, menari, dan berlagu klakson bersama menuju Piazza Venesia, monumen makam pahlawan Italia, Vittorio Emanuele II.
Tidak cukup para Tifosi, hampir semua turis di hotel seputaran Piazza pun ikut keluar menikmati sebuah pesta sepakbola. Tidak terasa lagi garis-garis pemisah warna kulit. Hitam, coklat, sawo matang, putih dan warna kulit lainnya. Terlihat bahasa bola secara efektif menyatukan semua gelombang manusia .
Konsep kesetaraan ini juga terasa sangat kental pada pendukung klub liga Jerman, Schalke 04. Klub ini adalah klub klasik kaya tradisi. Di distrik Gelsenkirche, tempat markas Schalke, seolah tidak ada hal lain kecuali Shalke. Warna biru putih logo Schalke terpasang di mana-mana.
Karena Schalke adalah klub dengan basis pendukung terbesar adalah para kaum buruh, yang terasa di sana adalah romantika khas kaum pekerja. Hingga para fans Schalke menganggap semuanya sederajat. Apakah orang itu gemuk, kurus, kaya, miskin, dokter, atau pengemis. “Di sini kamu bukanlah Sie (tuan). Di sini semua orang disapa dengan Du Arschloch (bajingan).†Itulah semboyan kaum buruh fans Schalke.
Satu hal yang menarik di sini adalah bola ternyata meniadakan perbedaan dan menihilkan ideologi yang saling bertentangan. Sepakbola mengembalikan hakikat manusia sebagai Homo Ludens, yang menurut Prof J. Huizinga membuat manusia dapat bergembira bersama.
Inilah yang tampak di kantin Salman ITB beberapa hari lalu, tepatnya ketika pertandingan Liga Super Indonesia (LSI) antara Persik Kediri melawan Persib Bandung.
Saat Christian Gonzalez mencetak gol kedua untuk Persib, seluruh penonton di kantin tertawa gembira. Ketika umpan lambung Hilton gagal diekseskusi Gonzalez, semuanya berteriak kecewa. Begitupun ketika umpan lambung Satoshi yang berhasil ditanduk Gonzalez hanya membentur tiang gawang, umpatan-umpatan ringan pun keluar. Sebagian lagi dengan “sukarela†masih membahas tandukan tersebut hingga beberapa menit setelahnya.
Terlihat sekali lagi kalau bahasa bola mampu menyatukan manusia. Padahal kalau diperhatikan, para penonton di kantin Salman berasal dari kelompok yang berbeda-beda. Ketika pada kondisi kerja normal, mereka tidak akan bertegur sapa atau tertawa bersama. Mereka antara lain para pegawai kantin Salman, relawan Korps Relawan Salman (KORSA), aktivis Lembaga Pengkajian Islam (LPI), pegawai Rumah Amal, bahkan hingga beberapa tukang dagang pun ikut berbaur dan sama-sama mengeluarkan suara mendukung Persib.
Memang kondisi kerja di Salman ITB selalu menyisakan ruang untuk bertegur sapa atau bermain lebih banyak dari tempat kerja lainnya. Namun, membuat orang dari kelompok yang berbeda bisa duduk bersama dan memiliki semangat yang sama, inilah yang cukup sulit. Kalaupun ada, salah satu acara yang mampu mengkondisikan itu adalah kegiatan kebersamaan rutin yang diisi dengan acara makan-makan. Namun itupun tidak akan sebanyak dan seantusias ketika menyaksikan pertandingan sepakbola.
Jadi bila di Afrika Selatan, sepakbola bisa menjadi sarana yang sukses mewujudkan pengertian persamaan ras. Maka di kantin Salman, sepakbola bisa mewujudkan pengertian kebersamaan, lebih dari acara kebersamaan rutin yang diisi oleh makan-makan tadi.
Begitulah, saat keberangkatan Brazil ke Perancis untuk mengikuti Piala Dunia 1998, seluruh rakyat mendoakan mereka. Ketika pesawat tim Brazil mengudara, seorang presenter TV-Globo berkata, “Itu bukanlah pesawat dengan 22 atlet yang sedang berangkat. Di sinilah sesungguhnya berangkat sebuah impian (rakyat Brazil) yang menyamar sebagai sebuah kesebelasan sepakbola.”
Bahasa sepakbola mengandung banyak hal, dan salah satu pengikatnya adalah impian akan kemenangan tim kesayangan. Hal ini pulalah yang mengikat setiap komponen Salman untuk setia duduk bersama menonton pertandingan, tertawa, berceloteh atau berteriak bersama. Mereka semua diikat oleh satu impian: melihat Persib Bandung menang. Padahal, sekalipun mereka bukan orang Bandung asli.
Karena merasa satu bahasa itu pula, ketika gol ketiga Persib tercipta lewat kaki Hilton Moriera, kantin kembali dipenuhi sorak-sorai dan Persib pulang membawa kemenangan 3-1. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Persib pulang membawa impian yang terwujud, impian yang hanya bisa dilukiskan dengan bahasa bola yang dipahami oleh seluruh suporternya, di manapun mereka berada, termasuk suporter di kantin Salman.

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)



![Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012] Penerimaan Anggota Asrama Salman ITB periode 2012/2013 [1-11 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/05/Asrama-Salman-ITB-50x50.jpg)


![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)
