Ekonomi dan Manajemen dalam Perspektif Tauhid

Foto: examiner.com

Foto: examiner.com

Diriwayatkan ada seorang lelaki memberi hadiah satu guci arak kepada Nabi saw. Nabi pun memberitahukan kepada orang itu bahwa arak telah diharamkan oleh Allah. Lalu lelaki itu pun bertanya, “Bolehkah saya menjualnya?” Nabi menjawab, “Zat (sesuatu) yang diharamkan untuk diminum haram juga untuk dijual.”

Lelaki itu balik bertanya, “Bagaimana kalau saya hadiahkan saja kepada orang Yahudi?” “Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi,” Jawab Nabi. Maka lelaki itu bertanya lagi, “Lalu, apa yang harus saya perbuat?” “Tuangkan saja (arak itu) di selokan,” jawab Nabi. (HR. Al Humaidi, dikutip dari Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, Bina Ilmu, Surabaya, 1982)

Hadist Nabi di atas menggambarkan cara Islam melakukan aktivitas ekonomi dan pengendalian manajemen berlandaskan sikap tauhid. Manajemen diartikan sebagai mengatur sumber daya yang terdiri dari manusia (man), bahan baku (material), uang (money), mesin (machine), metode (method) dan informasi, agar tujuan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Dimulai dari menetapkan tujuan, merencanakan, mengorganisasikannya, melaksanakannya hingga mengendalikannya.

Pengertian Tauhid dan Syirik

Tauhid berarti mengesakan atau menomor satukan Allah dalam setiap urusan kita di kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan syirik, berarti menganggap sesuatu lebih penting atau setara dengan Allah.

Beberapa kasus termasuk perbuatan syirik adalah bila kita menjadi pemecah belah agama, karena merasa bangga dengan kelompok; membabi buta dengan pendapat orang ’alim, pendeta, kiai, atau guru; dan  tidak mengasihi sesama dengan tidak mau membayar zakat.

Tauhid dasarnya adalah ikhlas atau suci bersih, yakni yang dilakukan semata untuk Allah, tidak bercampur dengan yang lain. Sedangkan syirik adalah setiap perbuatan yang dilakukan tidak suci bersih atau masih bercampur, bukan hanya untuk Allah saja.

Pribadi Tauhid

Pribadi yang bertauhid ibarat pohon yang baik, berakar kuat, berbatang menjulang ke langit, dan berbuah setiap musimnya (QS. 14 Ibrahim : 24-25). Berbuah setiap musimnya berarti senantiasa memberikan manfaat. Berbuah setiap musimnya juga berarti seperti pribadi yang membayarkan zakat, infak, dan sodaqah (ZIS) dalam keadaan apapun yang didasarkan iman yang kuat kepada Allah. Jadi pribadi bertauhid senantiasa menjaga keseimbangan hubungannya dengan Allah dan manusia.

Ekonomi, Manajemen, dan Pribadi Tauhid

Ekonomi adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan setiap tindakan atau proses yang bersangkut paut dengan penciptaan barang atau jasa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia (Winardi, Kamus Ekonomi, Mandar Maju, Cetakan IX, Bandung, 1989). Termasuk dalam jasa, adalah distribusi dan jual beli atau perdagangan.

Ekonomi dan manajemen berdasar syari’ah adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan setiap proses pengaturan yang bersangkut paut dengan penciptaan barang atau jasa, termasuk distribusi dan jual beli atau perdagangan. Istilah ini mengacu juga pada kegiatan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan rambu-rambu halalan thayyiban, proses penciptaan barang atau jasa yang dibuat harus benar halal dan baik.

Oleh karenanya, pribadi tauhid yang menjadikan ekonomi Islam sebagai ladang dakwah ekonominya, wajib mengetahui syariah Islam tentang pengertian tauhid dan hukum-hukum ekonomi yang berlandaskan Islam. Sehingga apa yang dilakukannya memenuhi persyaratan halalan thayyiban dan tidak membahayakan serta merugikan orang lain.

Cara Mencapai Tujuan ekonomi Islam

Tujuan ekonomi adalah tercukupinya kebutuhan yang bersangkut paut dengan penciptaan barang atau jasa, yang disebut dengan berkah (barokah). Tujuan ini dapat dicapai bila kita sebagai anak bangsa benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah.

Iman adalah suatu keyakinan yang kuat kepada Allah. Kondisi ini memungkinkan seseorang untuk melakukan apa saja guna memenuhi kebutuhannya dengan memperhatikan rambu-rambu yang dibuat-Nya. Adapun takwa adalah memelihara apa yang sudah dijalankan agar dapat berlangsung kontinu, bahkan dengan kualitas yang lebih baik lagi.

Berkah yang dimaksud adalah terpenuhinya kebutuhan yang bersangkutan dengan penciptaan barang atau jasa. Namun semua itu baru akan dapat tercapai bila dilakukan secara berjamaah.

Penutup

Pribadi bertauhid yang menjalankan ekonomi Islam ibarat pohon berakar kuat, dengan batang menjulang ke langit serta berbuah setiap musimnya. Bila memang kita mentauhidkan Allah, marilah kita berhijrah dengan menjadikan diri kita sebagai alat-Nya.

Kita dukung instrumen ekonomi Islam yang ada dengan berhijrah dari ekonomi kapitalistik yang serakah,  menuju ekonomi Islam yang adil terdistribusi. Dapat kita mulai dengan mengunakan jasa bank Islam, mulai dari kartu kredit, berusaha, dan berjual beli

Semoga kita dapat bersegera berhijrah dan menjadikan diri kita sebagai pelaku instrumen ekonomi Islam. Membuat kita termasuk pelaku ekonomi Islam yang malakukan tugas dilandasi tauhid kepada Allah. Membuat kita juga termasuk pelaku ekonomi Islam yang bersegera bila waktu shalat tiba segera meninggalkan urusan ekonomi kita dan melaksanakan aktivitas ekonomi dengan baik dalam rangka mencari karunia Allah serta memperhatikan prinsip halalan thayyiban.

*

*

Top