Ir. Herry Moeljanto: Bermodal Kejujuran dan Sikap Profesional

Sejak belia, Herry Moeljanto bercita-cita jadi wirausahawan.  Bermodal kejujuran dan profesionalisme, Herry sukses menjadi pengusaha kontraktor Mechanical, Electrical, & Civil dengan klien-klien ‘kakap’.

Fokus dan pantang menyerah. Mungkin itu lah yang menjadi kata kunci keberhasilan karir Herry Moeljanto. Pria kelahiran Surabaya, 46 tahun lalu ini sudah hampir 17 tahun memimpin perusahaan swasta di bidang pekerjaan mekanis (mechanical) , dan kelistrikan (electrical) , serta sipil (civil).

Alumnus Teknik Fisika ITB angkatan 1983 ini, bersama sahabat-nya, Nur Wahid (Informatika ITB 83), membesarkan perusahaan yang mereka rintis, PT Megacipta Sentrapersada. Herry menjabat sebagai Direktur, sedangkan Nur Wahid sebagai Komisaris.

Berbagai proyek besar sudah digarap perusahaan yang didirikan pada 1993 ini. Proyek kebanggaan mantan aktivis pembinaan mahasiswa baru ITB ini adalah Electrical Umbrella (payung elektris) di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Payung elektris ini berfungsi untuk menaungi jamaah di bagian halaman masjid, dari panas matahari dan hujan. Teknologi payung yang diadopsi dari Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarah, Arab Saudi ini, pertama dan terbesar di Indonesia.

“Electrical Umbrella ini pertama di Indonesia, dan desain untuk Indonesia ini sudah kami patenkan,” kata suami Tita Rufaidah, tentang payung yang bisa buka-tutup secara otomatis  ini. Setelah itu, ia juga menggarap proyek sejenis di Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Kabupaten Bogor.

Di antara saudara-saudaranya, Herry yang merupakan anak ke-8 dari 11 bersaudara ini terbilang unik sendiri. Anak pensiunan polisi nyambi sebagai wiraswastawan ini merupakan satu-satunya  anak yang menekuni dunia usaha. Sedangkan ke-10 saudaranya memilih jadi pegawai.

“Luar biasa. Berbeda dari yang lain,” ujar ayah tiga anak ini. Bakat wiraswasta aktivis berbagai kepanitiaan di Masjid Salman ITB ini, terasah sejak duduk di SMA di Surabaya, saat turut serta membantu menjalankan bisnis sang ayah, meliputi toko jam, toko kain, agen minyak tanah, juragan angkot, dan lain-lain.

Setelah masuk ITB, Herry berani beda sendiri. Saat rekan-rekannya kebanyakan ingin bekerja di dunia industri setelah lulus kuliah, pria berpostur langsing ini malah ingin merintis usaha sendiri alias berwirausaha. Setelah menamatkan kuliah pada Oktober 1989, bersama tiga rekannya, termasuk Nur Wahid, ia membuka usaha konsultan di bidang Mechanical-Electrical yang diberi nama Enha Persada (1990).

Menjalankan perusahaan baru yang belum dikenal, bukanlah perkara mudah. Herry dan kawan-kawan harus berjuang keras untuk bisa sekadar bertahan hidup. Episode selanjutnya adalah kisah pahit. Dan arek Suroboyo ini benar-benar bermodal nekad. Dengan uang Rp 50 ribu di saku, Herry pergi ke Jakarta untuk menimba ilmu kepada para seniornya. Selama tiga bulan, ia nginap di mushalla.

Untuk mengisi waktu luang, ia pun melakukan pekerjaan pemrograman. Waktu itu masih pakai DBASE III. Hasilnya, cukup untuk uang saku sehari-hari. “Asal mau kerja, insya Allah akan diberi rezeki,” begitulah prinsip Herry, yang baru empat tahun setelah lulus, baru “menebus” ijazah  ITB-nya dari bank (karena dijadikan agunan KMI –kredit mahasiswa Indonesia).

Namun Herry dkk pantang menyerah. Ia terus fokus pada niat utamanya: menjadi pengusaha. Maka, ia pun menyambangi beberapa tokoh terkemuka, seperti Ciputra. Bukan untuk meminta proyek atau pekerjaan, melainkan untuk mendapatkan ilmu dari ahlinya, lewat diskusi yang intensif. Hingga akhirnya Herry dan kawannya mendapat bantuan dari salah seorang seniornya, Muslimin Nasution (‘Bang Mus’)–yang kemudian menjabat Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada Kabinet Reformasi Pembangunan.

Herry saat itu diberi sebuah ruangan dan sambungan telepon, untuk melakukan aktivitas. Total selama enam bulan perusahaan konsultan yang dirintisnya tak kunjung mendapatkan orderan. Namun selama masa tunggu itu, ia terus belajar dan belajar. Hingga suatu hari, Herry mendapat tantangan dari Wiradat, seorang arsitek yang juga seniornya di ITB, untuk menggarap proyek pertamanya di Kaltim Prima Coal (KPC). Herry dan Nur Wahid, dengan pedenya menerima proyek itu. (Kedua rekan lainnya di Enha Persada sudah mundur, kemudian melamar kerja dan bekerja untuk orang lain).

“Setelah berhasil menyelesaikan proyek besar itu, muncul dong rasa percaya diri saya,” ujar Herry, yang kemudian mendirikan PT Megacipta Sentrapersada, yang bergerak di bidang kontraktor ME (mechanical- electrical) . Setelah itu, barulah ia berani mengajukan diri untuk menggarap proyek-proyek di bidang ME.

Sejak itu, berbagai proyek besar seolah “menghampirinya” . Menurutnya, setiap tahun perusahaannya rata-rata menggarap sebanyak 15 sampai 20 proyek. Kini, Megacipta Sentrapersada sudah merampungkan ratusan proyek.

Apa kiat-kiat yang diterapkan Herry hingga mengundang kepercayaan dari para kliennya?

“Kejujuran dan profesionalisme, ” jawab Herry, singkat. Kejujuran dalam memegang amanah dari kliennya, melahirkan kepercayaan untuk menangani proyek-proyek lanjutan. Sikap profesionalnya, misalnya menawarkan cost proyek lebih rendah dari kompetitornya –tanpa mengurangi kualitas pekerjaan– juga melahirkan kepercayaan pada Herry untuk menangani proyek-proyek mereka.

Bahkan, Ibu Tien Soeharto, dulu mempercayakan proyek Akuarium Air Tawar di Taman Mini Indonesia Indah kepadanya. Awal mulanya, hasil perhitungan awal oleh perusahaan lain, dana yang dibutuhkan untuk membangun proyek Fish Water World itu mencapai Rp 4,2 miliar. Namun ia berani memangkas-nya hingga separuhnya, yakni Rp 2,2 miliar. Maka, Ibu Tien pun berani memodalinya Rp 2,2 miliar dibayar di muka. Dan proyek pembangunan akuarium itu pun selesai dengan sukses, sesuai dengan perhitungan.

Bagaimana ia bisa melakukan itu semua? Herry pun berbagi kiat. Menurutnya, syarat dasar untuk menjadi pengusaha adalah:

  1. Niat, bukan modal. Karena niat yang kuat, bakal menjadi tekad. Uang nanti “datang sendiri.”
  2. Profesional. Sebagai perusahaan jasa, Herry harus menge-depankan profesional, karena kepercayaan menjadi taruhan.
  3. Jujur. Memegang amanah. Ini bisa melahirkan kepercayaan.
  4. Silaturahmi. Membuat jaringan, melakukan pertemanan
  5. dengan sesama alumni ITB.
  6. Modal, dalam arti kapital. Herry “buka kartu.” Ia “baru mengenal” bank pada 1995, setelah perusahaan jalan dua tahun.  Itu pun setelah bank “merayu-rayunya” agar mengambil kredit. Akhirnya, ia pun mengambil kredit. Kredit pertama besarnya hanya Rp 100 juta. Kini, kredit Rp 5 milyar, dananya bukan untuk dipakai, melainkan untuk dana cadangan.

Karena itulah, tidak mengherankan kalau di antara klien-kliennya ada yang hanya mau menggunakan jasa PT Megacipta Sentrapersada kalau Herry sendiri yang melakukan deal.  Kalau proyek sudah jalan, barulah Herry melimpahkan pekerjaan selanjutnya kepada anak buahnya.

Kini, Megacipta Sentrapersada, yang diperkuat 500 karyawan itu, sudah mengukuhkan diri sebagai perusahaan yang profesional, memberikan servis dan produk yang baik, tepat waktu, dijalankan dengan semangat tinggi, dengan tetap menjaga nilai-nilai rahmatan lil alamin –sesuai misinya.(*)

Data tentang usaha.
Nama perusahaan: PT Megacipta Sentrapersada (Engineering, Construction, Trading)
Motto: We Build Nation
Situs internet: www.megacipta. com
E-mail: megacipta2005@ yahoo.com, herrymoeljanto@ megacipta. com
Alamat:
Komplek Ruko Taman Pondok Kelapa Blok D-6
Jl Raya Pondok Kelapa, Jakarta Timur, 13450
Tlp 021 865 0339, 865 0340
Faks 021 865 0320

(*) Ditulis oleh: Tian Arief, pernah aktif di Karisma Salman ITB, tahun 1980-an.

*

*

Top