Pergantian tahun yang baru saja dilewati oleh umat manusia, erat kaitannya dengan usia. Tanpa kita sadari, usia yang kita miliki adalah salah satu nikmat dari Allah yang paling berharga dalam kehidupan. Oleh sebab itu, bila nikmat usia itu tidak digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, otomatis kita bisa dikategorikan sebagai orang yang kufur nikmat.
Meskipun secara angka usia kita bertambah, namun setiap terjadi pergantian tahun, jatah hidup kita di dunia sebenarnya berkurang. Meskipun begitu, sangat sedikit orang yang sadar dan mau memanfaatkan umurnya dengan baik.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menegaskan bahwa setiap hari umur manusia itu berkurang. Setiap hari Allah juga menurunkan rezeki pada kita. Meskipun begitu, jangankan berterima kasih, ingat kepada Allah pun tidak kita lakukan. Bila kita diberi pemberian yang sedikit, kita tidak pernah mau menerimanya. Sebaliknya, bila kita diberi pemberian yang banyak, kita tidak pernah merasa cukup.
Dalam hadis tersebut Allah juga mengatakan bahwa setiap hari Dia memberi kita rezeki. Namun, setiap malam para malaikat selalu datang dengan membawa catatan dosa. Kita sebagai manusia selalu menikmati setiap rezeki dari Allah. Tetapi kita tidak pernah merasa malu berbuat durhaka kepada-Nya. Setiap kali berdoa pun, keinginan kita selalu dikabulkan dan kebaikan Allah pun tidak pernah putus. Tapi anehnya, catatan kemaksiatan kita tidak kunjung berhenti.
Selain itu, Allah juga mengatakan bahwa Dia selalu merasa malu pada kelakuan kita setiap hari. Tapi sebaliknya, kita tidak pernah malu pada Allah atas dosa yang kita perbuat, bahkan cenderung melupakan-Nya. Kita pun terlalu sering merasa takut pada sesama manusia, tapi tidak pernah takut kepada Allah sedikitpun juga.
Dari yang tercantum dalam hadis qudsi tersebut, kita bisa melihat bahwa masih banyak kelalaian yang kita perbuat dalam kehidupan sebagai manusia. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri. Diharapkan, dari introspeksi diri inilah akan berujung pada koreksi.
Apa saja yang harus kita koreksi? Tentu saja setiap jengkal perbuatan kita. Bagaimanapun juga, hal inilah yang kelak akan dinilai. Dalam hal introspeksi ini, Rasulullah sudah memberi semacam panduan, “Orang yang paling baik adalah orang yang diberi usia panjang dan usia itu dipergunakan untuk menambah amalan dan mencari pahala.“
Salah satu bentuk koreksi dan introspeksi bangsa ini adalah dalam bidang korupsi. Tahun 2009 lalu, adalah tahun yang membuat kita prihatin. Bangsa ini banyak diterpa ujian dan cobaan, dan yang paling terasa adalah budaya korupsi yang sangat mengakar.
Karena terlalu kuatnya budaya korupsi ini, sampai-sampai sebuah riset tahun 2009 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara paling korup di Asia. Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan. Seharusnya kita malu karena sebagai negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, ternyata mayoritas dari kita juga koruptor.
Melihat kondisi yang memprihatikan ini, dua organisasi besar Islam, yait NU dan Muhammadiyah, bertekad untuk memberantas berbagai praktek korupsi. Tekad ini dicantumkan dalam resolusi tahun 2010 mereka dengan cara mendeklarasikan gerakan hidup halal. Gerakan ini digulirkan untuk meyadarkan masyarakat bahwa mengambil barang yang bukan haknya itu haram. Dari hal kecil inilah, diharapkan bisa menjadi awal untuk memberantas korupsi.
Kedua organisasi tersebut berpendapat bahwa Indonesia sudah tidak bisa mengandalkan KPK untuk memberantas korupsi. Bagaimanapun juga, KPK terlalu kecil untuk berhadapan dengan korupsi yang sudah terlalu besar dan menggurita di Indonesia. Dalam hal ini, KPK harus mendapat dukungan yang lebih besar dari masyarakat. Bentuk dukungannya antara lain dengan budaya hidup halal. Gerakan ini harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu dari diri sendiri dan keluarga.
Perlu diperhatikan, bahwa yang dimaksud dengan halal disini bukan sekedar makanan saja, tapi juga mencakup perbuatan, pekerjaan, bahkan kehidupan sosial politik. Ini semua sudah jelas diatur dalam agama kita. Gerakan ini pastinya membutuhkan contoh. Untuk contoh, kita seharusnya bisa melihat ke atas, ke para pemimpin. Tentu maksudnya pemimpin negara, pemimpin kelompok, hingga pemimpin di dalam keluarga.
Gerakan ini mendapat dukungan cukup baik dari berbagai organisasi keagamaan lainnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa gerakan ini termasuk salah satu bentuk jihad di jalan Allah.
Pertanyaannya, apakah gerakan ini akan berhasil? Semua itu tergantung seberapa banyak kita melakukannya dan seberapa sering kita melihat contoh-contoh dari para pemimpin kita. Satu hal yang harus selalu diingat, meskipun kita semua sudah siap melaksanakan gerakan ini, tapi kita tetap harus berdoa kepada Allah agar kita selalu diberi pertolongan. Insya Allah, jika kita selalu berniat untuk menegakkan agama Allah, maka Allah akan menolong, memberkahi, dan meridhai kita semua.
Disarikan dari Ceramah Jumat, 8 Januari 2010 oleh Prof. KH. Ir. Masdar Helmi

![Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012] Pendaftaran Beasiswa Salman ITB periode Juli-Desember 2012 [1-13 Mei 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/poster-beasiswa-50x50.jpg)





![Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012] Pesantren Kilat PAS ITB: KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis) [24–29 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak-logo-50x50.jpg)
![Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012] Pendaftaran Wali Adik PAS ITB [16 Mei - 7 Juni 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/ketoprak1-50x50.jpg)

