Pada satu kesempatan, Rasulullah pernah menasehati seorang sahabat. Waktu itu Rasulullah berkata, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada dan bersegeralah untuk melaksanakan perbuatan yang baik kalau seandainya kamu berbuat dosa. Karena sebenarnya perbuatan baik itu akan membantu menghapus dosa tersebut.”
Selain itu Rasulullah juga memperingatkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang berakhlak baik. hal ini tidak lain karena apa yang kita perbuat, sedikit-banyak dipengaruhi dengan kondisi lingkungan. Siapa yang bergesekan dengan kita setiap hari dan dengan siapa yang menjadi teman bicara kita.
Kalau kita perhatikan, pada intinya Rasulullah memerintahkan kita untuk bertakwa kepada Allah dan memiliki akhlak yang mulia. Ini adalah perintah yang gampang-gampang susah. Sebenarnya bila kita sekarang keluar berjalan-jalan, dalam sekejap mata saja kita bisa melihat berbagai kekacauan dan ketidakseimbangan di sekitar kita. Itu semua sebenarnya bisa diperbaiki dengan perbuatan yang sederhana, tapi tetap menjunjung akhlak yang tinggi di manapun juga, terutama dalam pergaulan dengan sesama manusia.
Dalam kesempatan lain Rasulullah juga memberi tahu bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang akhlaknya baik. Maka ada baiknya bila kita sekarang bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menerapkan ini? Ini penting karena setiap gerak kehidupan kita harus diatur sesuai dengan dasar-dasar yang digariskan Allah dan memandang contoh dari Rasulullah.
Misalnya saja tentang satu perintah yang terkandung dalam Surat Al Hajj ayat 77:
Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al Hajj: 77)
Jelas ayat ini mengajarkan kita untuk selalu beribadah dengan baik dan benar. Sekali lagi tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sudah melaksanakannya?
Atau kita lihat hal lain yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada suatu ketika Rasulullah menyuruh seseorang untuk mengurus pengumpulan dan pembagian zakat. Ternyata dalam melaksanakan tugasnya, pegawai tersebut menerima beberapa hadiah yang dia pakai sendiri. Ketika itu Rasulullah langsung naik mimbar dan berkata bahwa tidak ada seorangpun yang bekerja untuk urusan negara, kemudian dia mendapatkan hadiah dan ternyata hadiah itu dia pakai untuk diri sendiri. Maka kelak di hari kiamat dia akan memikul barang-barang tersebut.
Dalam kesempatan ini Rasulullah mengajarkan kita untuk menjauh dari koripsi atau menipu untuk tujuan apapun. Maka, sekarang kita harus bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita melaksanakannya? Apalagi ajaran Rasulullah ini punya dasar yang kuat di dalam Alquran, antara lain di dalam surat Al Ahzab ayat 70 dan 71,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu…†(QS Al Ahzab : 70 -71)
Dan satu hal yang tidak boleh di lupakan, dalam kisah di atas juga terselip ajaran untuk berbuat adil. Karena siapa tahu dari barang-barang yang kita miliki ternyata ada hak milik orang lain. Hal itu secara jelas disebutkan dalam Alquran dalam surat Al Muthaffifin ayat 1 sampai 3,
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS Al Muthaffifin : 1-3)
Pada akhirnya kita akan kembali ke awal, ke hubungan antar manusia lagi. Artinya di sini, kualitas akhlak erat kaitannya dengan etika. Alquran mengajarkan banya hal yang berkaitan dengan etika. Misalnya cara menjaga hubungan dengan lawan jenis. Ini dibuktikan dengan banyak ajaran Rasulullah seperti dari hadist yang berbunyi, “Bila seorang laki-laki dan perempuan ada di sebuah tempat maka yang ketiganya adalah setan.“
Begitupun Allah lewat Alquran sebagai sumber hukum yang utama mengajarkan hal itu. Hal ini bisa dilihat dari banyak ayat, antara lain di Surat An Nuur ayat 30,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nuur : 30)
Ajaran-ajaran Allah dan Rasulullah yang tertuang lewat berbagai sumber hukum inilah yang harus kita taati dalam kehidupan. Semua ini akan jadi perlambang dari keluhuran akhlak kita, akan jadi cermin dari etika hidup kita sehari-hari, dan itu semua akan jadi angka penilaian kita, baik di dunia atau di akhirat kelak.
Disarikan dari ceramah Drs. H. Fathul Umum, MBA hari Jumat 22 Januari 2010






![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)