Beberapa waktu lalu, terjadi sebuah pembahasan tentang bagaimana menyusun ulang paradigma iptek agar dapat diintegrasikan dengan ajaran Islam. Para peserta terutama mendiskusikan istilah “bebas nilai†dalam iptek, dan posisi wahyu bila dikaitkan dengannya.
Menurut Dr. Thomas Djamaluddin, pro-kontra istilah “bebas nilai†dalam iptek perlu diluruskan. Memang benar bahwa sepanjang sejarah iptek, nilai dan emosi menjadi inspirasi ataupun penggerak bagi para ilmuwan/teknokrat dalam melakukan aktifitas ilmiahnya. Akan tetapi, berbeda dengan seni, nilai dan emosi tidak dapat dijadikan tolok ukur diterima atau tidaknya sebuah hasil eksperimen ilmiah.
Dr. Djamaluddin menegaskan, jika prosedur yang dilalui sama, hasil penelitian seorang ilmuwan Muslim seharusnya juga dapat dibuktikan oleh para ilmuwan non-Muslim. Beliau mencontohkan model-model ekonomi syariah yang kini beramai-ramai diadopsi lembaga keuangan Barat. Pada awalnya, model-model tersebut hanya digunakan lembaga-lembaga Islam. Namun setelah dicoba oleh beberapa lembaga keuangan Barat dan berhasil, model-model tersebut akhirnya diterima karena dipercaya dapat berlaku universal. Intinya, prinsip obyektifitas dalam sebuah eksperimen tidak dapat ditawar.
Pandangan Dr. Djamaluddin mengenai posisi nilai sebagai sumber inspirasi ilmiah, didukung Dr. Moedji Raharto dan Dr. Umar Fauzi. Menurut Moedji, kebutuhan umat Islam untuk mengetahui arah kiblat, waktu sholat dan penentuan waktu ibadah lain lewat kalender, telah mendorong mereka menghasilkan capaian-capaian besar dalam ilmu astronomi dan geometri di abad pertengahan.
Fenomena ini menurut Moedji, tidak terlepas dari diterimanya pandangan Islam saat itu, tentang luasnya cakupan definisi ilmu. “Sifat-sifat Allah, wahyu, sunnah, sirah, itu semua dianggap sebagai sumber ilmu yang terus dikaji dan berkembang. Berbeda dengan sekarang, ilmu direduksi hanya ke ranah logis dan empiris,†ujar Moedji. Di masa kejayaan Islam, keilmuan klasik seperti tafsir, kalam, dan hadits disejajarkan dan bahkan dianggap lebih tinggi/penting dibandingkan ilmu-ilmu astronomi, geometri, botani dll.. Karena itu, hasil-hasil pengkajian dari disiplin keilmuan klasik tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi ilmu-ilmu lain yang lebih bersifat “duniawiâ€Â. Meskipun demikian, dari segi metodologi, Moedji menganggap tetap perlu ada demarkasi (batas) antar disiplin-disiplin ilmu klasik maupun ilmu-ilmu lain.
Dr. Umar menambahkan, pada konteks saat ini, seorang ilmuwan muslim bisa saja membuat hipotesis dengan bersandar pada isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an/As-Sunnah. Hipotesis ini kemudian dapat dipakai untuk memulai pengujian kembali teori-teori Barat yang telah mapan. Contohnya, dalam versi Dr. Umar, adalah konsep kiamat dalam Al-Qur’an dihubungkan dengan teori tektonik lempeng dalam ilmu kebumian. Teori ini tidak memberi tempat bagi terjadinya kiamat, sebab material kulit Bumi dianggap senantiasa berada dalam sebuah daur yang tak pernah selesai. Karena itu, bisa saja seorang ahli geologi/geofisika Muslim mencari dan menguji alternatif teori lain yang dapat menjelaskan terjadinya kiamat di permukaan Bumi, diantaranya yang telah muncul di Barat saat ini adalah teori “Surge Tectonicâ€Â.
Selain inisiasi awal hipotesis, nilai-nilai Islam sebagai sumber inspirasi juga dapat mewarnai karya-karya teknik. Hal ini dicontohkan Dr. Zainal Abidin lewat perbandingan antara arsitektur Masjidil Haram (setelah direnovasi) dan Masjid Aga Sophia di Istambul, Turki. Menurut Zainal, seorang arsitek pernah ditanya, mengapa corak arsitektur Masjidil Haram amat sederhana dibandingkan Aga Sophia yang amat megah. Sang arsitek kurang lebih menjawab, “Arsitektur Masjidil Haram dibuat sederhana, sebab tujuan umat Islam ke sana adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Tidak pantas kita bermegah-megah di hadapan-Nya. Akan tetapi di Istambul kita berhadapan dengan Kekaisaran Byzantium yang memusuhi Islam. Karena itu kita perlu menunjukkan keagungan dan kebesaran Islam di hadapan mereka.â€Â
Nilai-nilai yang bersumber dari wahyu dan ilham sedapat mungkin juga memberi arah bagi ilmu pengetahuan. Sebab menurut Dr. T. Djamaluddin, ilmu pengetahuan tidak dapat dibiarkan berkembang dengan arah seperti saat ini, yang cenderung bertujuan memuaskan keingintahuan belaka (ilmu untuk ilmu). Hal ini diakui Dr. Tati Suryati Subahar, yang mencontohkan bahwa tujuan utama ilmu Biologi sejak zaman Plato, Darwin sampai berkembangnya biologi molekuler saat ini tidak lain adalah menjelaskan asal-usul kehidupan. “Dan sampai sekarang, pertanyaan itu belum terjawab dengan memuaskan,†pungkas Beliau.
Lantas apakah seharusnya tujuan pengembangan iptek bagi seorang muslim? Muta’allim berpendapat bahwa tujuan utama aktifitas ilmiah adalah mengenali Sang Pencipta, dan pada akhirnya meyakinkan kita akan keniscayaan pertemuan dengan-Nya. Hasan menambahkan, ilmu yang ideal adalah hikmah, yang jika ditelusuri dalam Al-Qur’an memiliki empat kriteria: benar, bermanfaat, meyakinkan pemiliknya akan keesaan Allah, dan mendekatkan manusia pada-Nya.
Para peserta secara umum sepakat bahwa nilai yang bersumberkan wahyu dan ilham harus berperan sebagai inspirator, pewarna dan pengarah aktifitas ilmiah. Akan tetapi masih terdapat perbedaan pandangan tentang bagaimana mendudukkan wahyu dan ilham agar terintegrasi dengan input iptek yang lain.
Dr. Umar Fauzi misalnya, menilai wahyu dan ilham kurang tepat jika diletakkan sejajar dengan input lain seperti intuisi dan gejala alam. Menurut Beliau, wahyu dan ilham sepantasnya diletakkan lebih tinggi daripada input lain.
Senada dengan Dr. Umar, Drs. Armahedi Mahzar juga tidak sepakat jika wahyu dan ilham dianggap sederajat dengan intuisi dan gejala alam, apalagi dianggap sebagai pseudo-science. “Justru bagi saya, wahyu dan ilham itu lebih nyata kebenarannya dibandingkan science,†ujarnya. Armahedi kemudian mengusulkan susunan ulang hubungan yang lebih terintegrasi antar sejumlah input iptek. Menurut Armahedi, sejumlah input tersebut tidaklah berada dalam posisi yang sejajar, melainkan bertingkat, hirarkis. Input yang satu berada di bawah input yang lain. Skema lengkap hubungan yang disusun Armahedi adalah sebagai berikut:
|
Realitas |
Epistemologi |
Tasawuf |
Fisika |
|
Sumber |
Sumber |
Wahyu |
Sumber |
|
Nilai |
Nilai |
Ilham |
Prinsip |
|
Informasi |
Logika |
Akal |
Hukum |
|
Energi |
Emosi |
Naluri |
Proses |
|
Materi |
Fakta Empiris |
Indrawi |
Sistem Benda |
Armahedi membedakan wahyu dari ilham sebab wahyu senantiasa bersifat transenden (terhubung langsung dengan Yang Maha, Sang Pencipta) sementara ilham ada yang bersifat transenden, dan ada yang natural. Lebih lanjut Beliau mengingatkan bahwa walaupun wahyu bisa menjadi sumber inspirasi atau hipotesis, ia tidak selalu dapat diuji secara ilmiah. Istilah “menguji†pun tidak tepat digunakan untuk wahyu. Menurut Armahedi, yang dapat dilakukan seorang ilmuwan hanyalah melakukan cross-check antara fakta ilmiah dengan isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Para peserta diskusi hari itu belum sepakat mengenai bagaimana seharusnya memosisikan wahyu, ilham, logika, emosi dan fakta empirik dalam kegiatan ilmiah. Berlainan dengan Armahedi dan Umar, Dr. Suparno tetap kukuh berpendapat, bahwa dalam prakteknya, nilai-logika-emosi-empirik dapat masuk secara serempak sebagai input bagi iptek, tidak harus berturutan secara hirarkis.
Penanaman Paradigma Baru Iptek lewat Pendidikan
Jika pun paradigma yang terintegrasi antar input iptek tersebut di atas dapat disepakati, akankah para ilmuwan dan kaum intelektual bersedia menerimanya?
Diperlukan sebuah generasi ilmuwan dan intelektual baru untuk dapat menerima paradigma tersebut. Karena itu, para peserta diskusi sepakat bahwa iptek dengan paradigma yang islami perlu ditanamkan lewat pendidikan, khususnya pendidikan dasar sejak dini. Akan tetapi, pendidikan seperti apa dan bagaimana caranya?
Armahedi berkeyakinan, pendidikan iptek di setiap tingkatan usia harus dapat memahamkan bahwa alam terintegrasi secara hirarkis sebagaimana skema di atas, dari tingkatan terendah sampai ke yang tertinggi. Hanya dengan begitu, siswa akan paham hubungan antara iptek dan nilai-nilai spiritual, khususnya ajaran Islam.
Terkait pendidikan iptek, Dr. Suparno melihat, paradigma iptek saat ini bukan saja perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai spiritual, melainkan juga diintegrasikan cabang-cabangnya satu sama lain. “Mahasiswa S1 fisika ITB saja,†tutur Suparno, “belum tentu mengerti jika ditanya apa hubungannya bab listrik-magnet dengan mekanika dalam fisika dasar.†Selama ini hukum dan teori-teori fisika, serta cabang-cabang iptek lainnya, cenderung diajarkan terpisah-pisah dan meloncat-loncat. Kuliah fisika dasar dan fisika SMU biasanya dimulai dengan pembahasan mengenai besaran-satuan, mekanika, dinamika, lantas meloncat ke listrik-magnet, lantas meloncat lagi ke termodinamika, dst. “Seakan-akan tidak ada kesatuannya,†imbuh Beliau. Padahal menurut Beliau, iptek pasti akan lebih mudah dipahami jika diajarkan terintegrasi.
Dr. Zainal menambahkan, menurut konsep pendidikan holistik, pemahaman saja tidak cukup. Pendidikan iptek berparadigma islami ini juga harus mengasah skill dan akhirnya melahirkan profesionalisme. Fase pendidikan yang ideal menurut Zainal dimulai dari pembudayaan pengembangan pengetahuan pengasahan skill dan akhirnya pembentukan profesionalisme.
Penutup
Luasnya pokok bahasan dalam diskusi hari itu cukup menyulitkan pengambilan kesimpulan. Jika moderator coba menarik benang merah, diskusi ini telah berhasil menelurkan beberapa poin penting, yaitu:
- Nilai yang bersumber dari wahyu, dapat dan perlu berperan sebagai inspirasi dalam kegiatan ilmiah dan kerekayasaan, baik dalam bentuk hipotesis awal maupun ide produk.
- Nilai-nilai tersebut juga perlu mewarnai aktifitas iptek dalam bentuk etika ilmiah/rekayasa. Prosedur atau metode ilmiah sendiri harus tetap bersifat universal dan tidak perlu dipertentangkan dengan nilai-nilai tersebut.
- Selanjutnya, nilai-nilai ilahiyah berperan penting dalam mengarahkan pengembangan iptek, agar terus menuju pada pengenalan dan pengabdian kepada Allah SWT, yang antara lain diwujudkan dalam pemanfaatan iptek bagi kemaslahatan makhluk-Nya.
- Kerangka filsafat keilmuan yang dapat memosisikan wahyu, logika, emosi dan pengamatan empirik secara tepat dan proporsional, perlu disusun lebih lanjut.
- Kerangka tersebut kemudian perlu menjadi dasar pengembangan kurikulum pendidikan iptek di semua tingkatan usia.
Diskusi kemudian ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan kajian hari ini dengan kajian-kajian khusus yang terpisah, baik untuk membahas kerangka keilmuan, pengajaran iptek terpadu, maupun hipotesis yang bersandarkan wahyu.







![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)
yudha
Thursday, 17 December 2009
Bagaimana menurut anda jika iptek yng dihasilkan bukan digunakan dijalur yang benar, namun digunakan untuk pengrusakan? dan bagaimana hukumnya?