Tidak disangsikan lagi, bahwa Allah telah menciptakan akal ada diri manusia. Meskipun begitu, istilah akal tidak ditemukan sebagai kata dasar di dalam Alquran kecuali sebagai kata turunan yang merupakan kata kerja seperti ya’qilu, ta’qilu, na’qilu, dan ya’qiluna. Selain itu, terdapat pula istilah yang menunjukkan aktivitas penggunaan akal sebagai gambaran umum seperti tafakkur, tadabbur, ‘ilm, nazhr, dan idrak.
Ditemukan pula sejumlah istilah yang mempunyai pengertian sebagai akal, antara lain al-albab, al-nuha, dan al-hijr. Istilah al-albab sendiri berasal dari kata lubb yang dapat dimaknai sebagai intisari akal. Adapun al-hijr merupakan hasil dari perenungan akal. Sedangkan al-huha memiliki pengertian yang tidak jauh berbeda atau bahkan sama dengan pengertian pada al-hijr. [Reff. Jarot]
Keberadaan akal manusia menjadi kunci untuk memahami posisi alam semesta bagi kehidupan manusia. Jalan untuk mengenal Allah sebagai pencipta dirinya dan juga sebagai pencipta alam semesta. Hal ini sesuai dengan Surat Albaqarah ayat 164:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Ayat tersebut memberikan salah satu contoh bahwa fenomena penciptaan langit (samaawaati) dan Bumi (ardhi), fenomena pergantian siang dan malam, fenomena pelayaran di atas lautan, air yang diturunkan dari langit (samaa-i), fungsi air menghidupkan Bumi, pengisaran angin dan awan, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akal (la aayaatilli qaumiy ya’qiluun).
Pemahaman astronomi untuk mengungkapkan benda–benda langit, fenomena langit, dan ruang yang ditempati oleh benda langit serta ruang yang berlakunya hukum–hukum alam yang bekerja dalam ruang dan waktu, dinamakan alam semesta. Alam semesta dalam Alquran diungkapkan dalam surat Al ahqaaf ayat 3 dengan bahasa, “Langit dan Bumi dan semua yang ada antara keduanya (samaawaati wal ardha wa maa bainahumaa).
Kami tidak menciptakan langit (samaawaati) dan Bumi (ardha) dan semua yang ada antara keduanya (wa maa bainahumaa) melainkan dengan (yang benar) dan dengan waktu yang ditentukan. (QS: 46: 3)
Apakah alam semesta ada dengan sendirinya dan tak akan pernah punah?
Pertanyaan manusia pada abad 21 masih dalam wilayah bagaimana struktur dan evolusi alam semesta. Sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab dalam pespektif sains. Perlu pengetahuan dan data yang cukup untuk memahaminya dengan baik dan sempurna. Terlebih lagi, alam semesta terlalu luas, terlalu besar, terlalu kompleks, dan usianya jauh lebih panjang dibanding dengan eksistensi manusia.
Walaupun manusia menggunakan metodologi sains, namun sains sendiri mempunyai keterbatasan, terutama informasi yang berada dalam spasial ruang dan waktu. Pandangan manusia yang absurd, bisa sering terjadi karena keterbatasan informasi yang diterima manusia.






![Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012] Seminar Pendidikan: “Menjadi Manusia yang Berkarakter Juara dan Bahagia” [28 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/340230_3124018710091_1553337255_2931094_732637610_o-50x50.jpg)


![Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012] Penerimaan Adik Baru PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB Semester 56 [5 Februari 2012]](http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/CFD-50x50.jpg)