Hijrah sebagai Momentum Kebangkitan Islam

Foto: pembinamelaka.wordpress.com

Foto: pembinamelaka.wordpress.com

Sebelum kemunculan kalender Islam, di kalangan bangsa Arab telah menggunakan berbagai kalender yang digunakan seperti: kalender tahun gajah, kalender persia, kalender romawi, dan kalender lainnya, yang berasal dari peristiwa-peristiwa besar pada zaman jahiliyah. Sejarah menceritakan kepada kita, ketika khalifah Umar Bin Khatab RA menulis surat yang tidak bertanggal kepada gubernur Basrah, Abu Musa Al Ashari. Kemudian Abu Musa membalas surat tersebut yang salah satu poin balasannya Abu Musa menulis, “Surat Anda yang tidak bertanggal itu sudah saya terima.”

Kalimat singkat yang penuh arti itu membawa perhatian yang cukup besar dari khalifah Umar Bin Khatab yang membawa cukup banyak manfaat. Menurut riwayat dari Mainun Bin Muharam, pada suatu hari dibawalah kepada khalifah Umar Bin Khatab yang tercatat bulan Sya’ban tetapi tanpa tahun. Pada saat itu, Umar bertanya, “Bulan Sya’ban yang mana? Bulan Sya’ban tahun inikah, atau tahun lalu?” Khalifah kemudian memanggil pemimpin terkemuka untuk membahas persoalan ini agar tidak menimbulkan keraguan di waktu yang akan datang.

Di dalam musyarawah yang dipimpin oleh Umar Bin Khatab tentang rencana membuat kalender Islam, muncul banyak perbedaan pendapat. Di antara pendapat yang muncul, salah satunya menyarankan bahwa kalender Islam dimulai dari tahun lahirnya nabi Muhammad. Pendapat lainnya mengusulkan agar Kalender Islam dimulai ketika tahun nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. Sedangkan pendapat lainnya, mengusulkan agar kalender Islam dimulai ketika Isra Mi’raj, dan usulan dimulainya kalender Islam ketika nabi Muhammad wafat. Terakhir adalah usulan Ali bin Abi Thalib yang menyarankan agar kalender Islam dimulai ketika tahun nabi Muhammad mulai hijrah dari Mekah ke Madinah.

Akhirnya, musyawarah tersebut sepakat dengan usulan Ali Bin Abi Thalib untuk memulai kalender Islam pada tahun nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yaitu pada tahun 622 Masehi. Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan kalender Hijriah. Kalender ini merupakan hasil dari kepemimpinan Umar Bin Khatab sebagai khalifah dan mulai diberlakukan pada tahun 640 Masehi.

Kalender hijriah menggunakan metode penanggalan lunar atau bulan atau komariah. Kalender hijriah ini dalam Islam memiliki pengaruh untuk menentukan ibadah, seperti ibadah shaum Ramadhan, idul fitri, haji, idul adha, dan hari-hari penting lainnya. Kalender ini terdiri dari 12 bulan, yaitu: Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sa’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Djulhijjah.

Jumlah hari kalender hijriah terdiri dari 355 hari. Kalender hijriah terdiri dari 7 hari dengan perpindahan hari terjadi ketika waktu maghrib atau ketika terbenam matahari. Penamaan hari di kalender hijriah terdiri dari hari Ahad, Al Isnain, Salasa, Al Arba’a, Khamsahtun, Jumu’ah, dan Assabat.

Tanggal 18 Desember 2009 merupakan tanggal 1 Muharram 1431 Hijriah yang merupakan awal tahun 1431 Hijriah. Pada 1431 tahun yang lalu, terjadi sebuah peristiwa besar dalam perkembangan Islam, yaitu peristiwa hijrahnya nabi Muhammad bersama sahabat dari kota Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini mengandung banyak nilai yang perlu kita kembangkan dalam rangka pembinaan diri dan pembangunan umat sekarang dan yang akan datang.

Hijrah dalam Islam merupakan peristiwa monumental yang sangat penting. Bukan hanya bagi kehidupan nabi Muhammad, tetapi juga bagi pertumbuhan dan perkembangan umat Islam. Istilah hijrah ini diabadikan oleh Alquran dalam surat Al Anfal ayat 74 yang berbunyi:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Perjuangan yang dilalui Rasulullah bersama sahabat di Mekah, bukanlah sesuatu yang ringan, tetapi sangat berat sekali. Beliau dengan kaum mukminin menerima banyak cobaan, cercaan, teror, penyiksaan, propaganda, dan pembunuhan. Hal ini juga menimpa para sahabat seperti Bilal Bin Rabah yang diseret-seret karena memeluk agama Islam. Hal yang sama juga terjadi pada keluarga Yasir, Abu Fakihah, dan banyak lagi orang-orang yang disiksa karena mempertahankan agama Allah.

Bahkan Rasulullah dan para sahabat diboikot secara ekonomi selama 3 tahun sehingga menderita kekurangan pangan, kelaparan, dan wabah penyakit. Bahkan di antara mereka ada yang syahidah sebelum hijrah. Oleh karena itu, hijrah adalah sebuah pertolongan Allah untuk mengembangkan dakwah setelah berjuang sekuat tenaga, sepenuh jiwa, dan segenap harta.

Sebelum peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah, Rasulullah menyuruh para sahabat untuk pergi ke Madinah. Karena pada saat itu, Islam berkembang cukup pesat di kota Madinah. Tatkala para sahabat meninggalkan Mekah atas perintah beliau, Rasulullah tetap tinggal menunggu perintah hijrah dari Allah. Ketika Allah telah memerintahkan untuk hijrah, beliau memilih Abu Bakar untuk menemaninya dalam perjalanan hijrah.

Tatkala beliau keluar dari kota Mekah bersama Abu Bakar untuk hijrah, beliau menoleh dari atas bukit ke Mekah sambil berlinang air mata. Beliau berkata, “Sungguh demi Allah, engkaulah tempat yang paling aku cintai. Dan bila kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu.”

Rasul pun melanjutkan perjalanan di bawah kejaran kaum musyrikin yang berusaha membunuhnya. Sehingga beliau dan Abu Bakar harus bersembunyi di bawah gua Sur selama bermalam-malam.

Betapa banyaknya rintangan yang beliau hadapi untuk menyebarkan Islam. Hingga sampailah hari ini, Islam berada di tengah-tengah kita semua setelah melalui sekian cobaan dan sekian rintangan, yang mengorbankan sekian harta dan sekian nyawa. Sekian malam yang harus dilalui dengan perut yang lapar. Sekian bulan yang dihabiskan di medan perang dan harus menempuh padang pasir sejauh 500 Kilometer antara Mekah ke Madinah.

Hari ini Islam telah tersebar dan hal inilah yang menuntun kehidupan manusia. Kita menerima Islam yang telah sempurna dan syariat inilah yang merubah dunia. Kita tidak bisa membayangkan andaikata Islam tidak ada, entah akan seperti apakah keadaan dunia ini. Contoh kecil, Amerika harus menempuh 100 tahun untuk mengakui bahwa perbudakan tidak bisa diterima. Namun Islam telah menuntun manusia untuk tidak menerima perbudakan.

Bila kita lihat pengkondisian hijrah, hijrah merupakan jalan akhir yang harus ditempuh untuk menyelamatkan diri dan akidah. Dalam hal ini, hijrah bisa terlaksana lantaran keyakinan bahwa hijrah merupakan pertolongan dari Allah. Sikap kehidupan kita untuk menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya, walaupun mendapatkan perlawanan dan penindasan dari orang yang tidak menyukai, haruslah didasari atas keyakinan bahwa Allah pasti menolong.

Kesempitan dan kesulitan hidup, harus dihadapi dengan keyakinan bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan. Janganlah kita tergoda dengan jalan-jalan pintas yang dilarang Allah hanya demi keluar dari kesempitan atau kesulitan yang kita terima.

Beberapa pengertian hijrah yang dapat dirumuskan berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah dan para sahabat antara lain:

  1. Keluar dari negeri kafir menuju ke negeri iman.
  2. Seseorang yang berhijrah pada hakikatnya adalah orang-orang yang mampu menjaga diri dari semua larangan Allah.
  3. Penegakan kebenaran dan penghacuran kebatilan. Sehingga setiap datangnya awal tahun hijriah, diharapkan mengingatkan kita kepada kewajiban ini. Seperti ucapan khalifah Umar Bin Khatab, “Penetapan tahun hijriah adalah tegaknya kebenaran dan hancurnya kebathilan.”

Penegakan kebenaran dan hancurnya kebathilan ini, dapat kita pertanyakan dalam bentuk perenungan atau tafakur. Merenungkan perilaku kita pada masa yang lalu. Perbuatan baik apakah yang pernah kita lakukan dan perbuatan buruk apakah yang pernah kita perbuat di masa lalu. Perenungan ini bisa disebut sebagai audit diri.

Sehingga, semangat hijrah ini bisa kita wujudkan sebagai gerakan perbaikan diri yang diikrarkan sebagai gerakan hijrah. Bila sudah dikategorikan sebagai gerakan, maka harus dilaksanakan dalam bentuk perencanaan, implementasi dalam bentuk aksi, pengukuran berubahan yang telah terjadi, kemudian evaluasi diri, dan perbaikan secara terus menerus.

Gerakan sirah ini tentu saja mengandung banyak halangan, rintangan, dan bahkan kehilangan yang lain demi menuju perubahan ke arah perbaikan yang lain. Dari sisi Allah, semua yang sulit-sulit dapat dilalui sebagaimana yang dilalui oleh Rasulullah karena Allah akan selalu menolong kita.

Bila kita tarik pada skala yang lebih besar, yaitu skala masyarakat kita yang kita hadapi saat ini, kita berada dalam struktur kebangsaan. Perilaku perbuatan tercela, buruk, dan berdosa, belakangan ini tampak secara jelas. Perbuatan-perbuatan tersebut sudah menjadi penyakit sistemik.

Perbuatan-perbuatan itu antara lain: pemimpin tidak amanah dan cenderung membohongi rakyatnya, pemegang otorisasi keuangan negara bergelimang dengan perbuatan-perbuatan dalam bentuk pencurian dan perampokan harta rakyat dengan cara-cara yang canggih, peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan diubah hanya untuk mencari justifikasi secara hukum untuk mengambil harta rakyat, para pengadil terperangkap kepentingan-kepentingan materi orang-orang yang mendukungnya, dan pengusaha banyak yang menipu dan mengambil uang rakyat dengan teknik-teknik yang canggih. Perbuatan-perbuatan tersebut tidak bisa kita diamkan. Diperlukan gerakan hijrah yang mampu menghancurkan kebathilan dan menegakan kebenaran.

Di sisi lain, peristiwa hijrah Rasulullah dan para pengikutnya menjadi tonggak lahirnya negara yang adil berbasiskan masyarakat beradab. Ketika beliau pindah ke Madinah, di situlah terbentuk negara modern (civil society) atau yang sering disebut dengan Masyarakat Madani. Hal ini dapat dilihat dari isi Piagam Madinah.

Ketika beliau hendak hijrah, beliau memberikan 6 persyaratan kepada pengikutnya sebagai benih terbentuknya masyarakat madani. Enam persyaratan itu adalah:

  1. Tidak menganut sistem ketuhanan yang lebih dari satu
  2. Tidak mencuri dan tidak serakah
  3. Tidak berzina
  4. Tidak membunuh dan tidak menelantarkan anak-anak
  5. Tidak saling fitnah
  6. Tidak merasa diri paling benar

Bila persyaratan tersebut kita bawa ke dalam kondisi kita yang sekarang, maka proses yang awalnya sesuai dengan persyaratan di atas, berangsur-angsur berubah berkebalikan. Hanya saja, kualitas dan kuantitasnya yang berbeda. Misalnya, tidak menganut sistem ketuhanan yang lebih dari satu, mulai terkontaminasi. Tidak mencuri dan serakah, berubah menjadi pencurian yang sistemik. Tidak berzina, berubah menjadikan zina sebagai komoditas bisnis yang menjanjikan. Tidak membunuh anak-anak dan menelantarkannya, telah berubah menjadi perbuatan yang menelantarkan generasi-generasi muda bangsa. Hal yang sama juga terjadi pada persyaratan tidak saling fitnah dan tidak merasa diri paling benar.

Dulu Rasulullah berhasil melaksanakan proses pembentukan masyarakat madani. Namun kini terjadi proses kebalikannya, yaitu proses demadanisasi.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan motivasi hijrah ini sebagai gerakan perbaikan diri dan masyarakat sehingga menjadi orang-orang yang selamat dunia dan akhirat di jalan Allah. Gerakan perbaikan ini bisa dinyatakan sebagai gerakan hijrah. Gerakan hijrah akan menghentikan gerakan sebaliknya, yaitu gerakan demadanisasi. Mulai dari diri kita sendiri, dan insya Allah, secara bersama dan berjamaah.

Disarikan dari Ceramah Jumat tanggal 18 Desember 2009 oleh Yazid Bindar

3 Comments

  1. agung mulia pulungan said:

    assalam,
    mksh ats aktikel yg dringkas dri KhutbahTntang HIJRAH MOMENTUM KEBANGKITAN ISLAM,
    bg agung copy artikel_a ya . . .
    tuk bahan – bahan MAJALAH ISLAM.

*

*

Top