Pendidikan Menuju Bangsa Bermartabat

merapiKunci maju mundurnya suatu bangsa yaitu pendidikan. Sejarah menunjukkan bangsa-bangsa yang maju meskipun sebelumnya telah hancur, namun dapat bangkit kembali karena memperhatikan pendidikan. Jepang yang kalah pada Perang Dunia II dalam waktu kurang dari 20 tahun, dapat maju dan menguasai industri dunia menjadi bukti. Saat Jepang hancur, Kaisar Jepang tidak bertanya jumlah Jenderal yang masih hidup tetapi yang ditanyakan adalah jumlah guru yang dimiliki. Maka dimulailah pembangunan Jepang dengan pendidikan yang berkualitas. Akhirnya Jepang pun kembali tampil sebagai negara besar. Hal itu pun terjadi di negara jiran Malaysia, juga Korea dan Cina. Ternyata terbukti bahwa negara yang memperhatikan pendidikan akan menjadi negara yang jaya.

Demikian pula dengan bangsa Indonesia yang terus mencoba berbenah melepaskan diri dari berbagai permasalahan. Jika ingin bangkit, maka tidak ada jalan lain kecuali memperhatikan pendidikan. Dengan pendidikan yang berkualitas maka akan lahir generasi berkualitas sebagai pemimpin bangsa di masa kini dan masa datang.

Bagaimana kondisi Indonesia yang ada sekarang ? Beberapa pertanyaan :

  1. Bangsa kita sudah merdeka 62 tahun yang lalu. Pendidikan modern di Indonesia sudah dilakukan sejak zaman Belanda sampai sekarang. Kurikulum pendidikan sudah berkali-kali diubah. Mengapa Indonesia belum menjadi negara yang maju ?
  2. Apakah ini berarti pendidikan yang selama ini dilaksanakan telah gagal ?

Kualitas SDM Indonesia

Kualitas SDM Indonesia yang diukur dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang meliputi PDB per kapita angka harapan hidup, angka melek huruf, dan angka partisipasi pendidikan belum seperti yang diharapkan. Berdasarkan Human Development Report 2006, IPM Indonesia menempati urutan ke 108 dari 177 negara. Begitu pula menurut Indeks Pembangunan Gender (Gender Related Develompment Index, GDI) Indonesia hanya menempati urutan ke 91 dari 144 negara. Tingkat kemajuan iptek nasional juga belum memuaskan, karena pada tahun 2001 Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) Indonesia berada pada urutan 60 dari 72 negara. Meskipun kontribusi pendidikan terhadap IPM, GDI, dan IPT merupakan bagian kecil dari keseluruhan kondisi masyarakat kita, namun perlu perhatian dan dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sementara laporan yang dikeluarkan oleh IEA (The International Associstion for the Evaluation of Educational Achievement) berdasarkan hasil studi yang dikenal dengan TIMSS (The Trends in Internationla Mathematic and Science Study [2004]) menunjUkkan bahwa untuk bidang matematika, siswa SMP kelas 2 di Indonesia berada pada peringkat ke-34 dari 45 negara. Sedangkan untuk bidang sains, siswa Indonesia pada tingkat yang sama berada pada urutan ke-36 dari 45 negara. Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa kondisi dan kualitas pendidikan kita memerlukan penanganan yang lebih serius dan terfokus.

Bangsa Bermartabat

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf (humanisasi), dan mencegah dari yang mungkar (liberasi), dan beriman kepada Allah (transendensi). (Q.S. 3 : 110)

Dari Firman Allah tersebut dapat dijelaskan tiga ciri umat yang terbaik atau bangsa yang bermartabat yaitu :

  1. Menyuruh kepada yang makruf (humanisasi), adalah memanusiakan manusia yang telah mengalami proses dehumanisasi karena masyarakat industrial menjadikan manusia sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan. Manusia mengalami objektivikasi ketika berada di tengah-tengah mesin-mesin politik dan mesin-mesin pasar. Ilmu dan teknologi juga telah membantu kecenderungan reduksionistik yang melihat manusia secara parsial.
  2. Mencegah dari yang mungkar (liberasi), adalah pembebasan bangsa dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi yang memperangkap manusia dalam kesadaran teknokratis, dan pemerasan oleh kekuatan ekonomi raksasa serta membebaskan diri dari belenggu yang kita bangun sendiri.
  3. Beriman kepada Allah (transendensi), adalah menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan yang telah menyerah kepada arus hedonisme, materialisme, dan budaya yang dekaden. Oleh karena perlu dilakukan pembersihan dengan mengingatkan kembali dimensi transendental yang menjadi bagian sah dari fitrah kemanusiaan, sehingga terasa kembali dunia ini sebagai rahmat Tuhan. (Kuntowijoyo, 1994)

Apa yang dapat dilakukan untuk mewujudkan Bangsa Bermartabat melalui Pendidikan?

Untuk mewujudkan ketiga ciri tersebut di atas maka perlu dilakukan :

  1. Proses belajar dan pembelajaran
    Mencetak pendidik/Guru sebagai Inspirator Perubahan (Rhenald Kasali,2007)
    Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang ada.
    Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.
    Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.
  2. Legalitas dan kode etik profesi guru, dosen dan tenaga kependidikan.
    Profesi guru selama ini mengalami degradasi seiring dengan pergeseran nilai-nilai di masyarakat yang cenderung menuju materialisme dan hedonisme. Seleksi untuk menjadi guru yang tidak ketat menjadikan profesi guru sebagai profesi yang terbuka dan siapapun dapat menjadi guru asal mau. Akibatnya muncullah guru-guru yang tidak berkualitas dan tidak menguasai pendidikan dengan baik.
    Pemerintah dan DPR telah mengeluarkan UU Guru dan Dosen sebagai wujud dimensi legalitas dan kode etik profesi guru, dosen dan tenaga kependidikan. Kemudian dilanjutkan dengan program sertifikasi guru yang diharapkan dapat melahirkan guru-guru professional yang bersertifikat.
  3. Faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi sistem pendidikan.
    Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang memiliki kondisi sosial dan budaya yang beragam. Pendidikan yang melakukan ’seragamisasi’ sudah harus segera ditinggalkan. Pendidikan yang berbasis kepada kekayaan budaya daerah, harus dikembangkan dalam otonomi pendidikan dan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
  4. Faktor ajaran agama dan kehidupan umat agama yang mempengaruhi terhadap pendidikan.
    Sebagai bangsa yang religius dan agamis, pendidikan di Indonesia tak dapat dilepaskan dari ajaran agama dan kehidupan umat agama. Adanya pendidikan agama yang wajib dijalankan di sekolah adalah wujud dari kondisi ini. Tetapi hendaknya pendidikan agama tidak hanya aspek kognitif saja, tetapi lebih menekankan kepada afektif demi terwujudnya insan-insan yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia.
About author
  • indri

    penanaman akhlak mulia hr dilakukn scr berkesinambungan,dimulai anak usia dini.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.