Ekonomi Islam Bebaskan Manusia dari Perbudakan dan Kelaparan

miskinDan Kami telah menunjukkan kepada manusia dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan manusia dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. (QS. Al Balad: 10 – 16)

Dikisahkan ada seorang pangeran tampan, baik hati, dan penyayang, sehingga menjadi pribadi yang amat dicintai siapa saja di istana. Namun dia hidup hanya dalam tembok istana. Ibarat katak dalam tempurung, pangeran tidak banyak tahu masalah yang terjadi di luar istana. Sayangnya pangeran yang baik hati itu wafat pada usia yang masih muda.

Sebagai kenangan bagi Pangeran, dibangunlah patungnya yang didirikan di puncak  sebuah bukit pada pilar  beton  yang  tinggi.  Sehingga  bila  Pangeran  itu   masih  hidup,  dia  dapat  memandang  seluruh  penjuru  negeri dari tempatnya  berdiri.

Pada   suatu   malam  yang  dingin,   seekor  burung  layang-layang   hinggap  di antara kedua  kaki  patung  tersebut.   Sang burung menganggap tempat  itu   lebih hangat  dibandingkan tempat  lain  yang lebih kumuh  dan  basah.

Menjelang  larut  malam, burung layang-layang  itu  terkejut. Karena  setetes  air  jatuh  di kepalanya.  Dengan  keheranan, dia  memandang  ke langit. Ternyata  udara  cerah dan bulan  sedang purnama. Bintang-bintang  bertebaran  di angkasa.  Tidak ada hujan,  tetapi  mengapa ada  tetes  air?  Dari manakah datangnya  tetes  air  itu?

Burung layang-layang itu   berusaha  mencari  sumber  tetesan  air  yang  menetes  di kepalanya.  Namun  alangkah  terkejutnya  dia  tatkala  tahu  bahwa  tetesan  air  itu  berasal  dari   pelupuk  mata  patung  Pangeran.  Maka  bertanyalah  burung layang-layang  kepada  patung Pangeran, “Mengapa  engkau menangis  wahai  patung  yang  tampan?”

Patung  itu  menjawab, “Sebab  ketika  masih  hidup  aku  tidak  sempat  menangis.  Aku hidup  penuh  suka cita  di  dalam  istana  yang indah. Di kelilingi  para  pelayan  dan  para punggawa  yang  selalu  siap  menghiburku.”

“Lalu  mengapa  malam  ini  engkau  bersedih?”  tanya  burung  layang-layang  itu  lagi.

“Bukan  hanya  malam  ini  saja  aku  bersedih,  tetapi  aku bersedih semenjak berdiri di sini. Karena dulu  aku menyangka  semua  manusia  hidup seperti aku. Selalu berbahagia,  tanpa mengenal  susah  dan derita,” jawab  patung  itu  lagi.

“Sebenarnya  apa  yang kau  pikirkan  sehingga  engkau  menjadi  bersedih  sedemikian rupa?”  tanya  burung  layang-layang.

“Dari  tempatku   ini,  aku melihat  di  suatu  kampung  di dekat  hutan  di pinggir  kota  ini,  ada sebuah  gubuk  yang reot  dan masih terbuka jendelanya.  Ada seorang janda tua  dengan  anaknya  yang masih kecil. Janda  tua  itu  sedang menyulam  pakaian salah seorang dayang istana. Padahal anaknya  sedang demam dan sakit panas. Anak  itu  merengek  meminta air jeruk, namun  janda  tua  itu hanya dapat  memberikan air dingin karena dia  tidak memiliki  uang sama  sekali.  Aku  akan tetap menangis di sini apabila engkau tidak mau menolongnya,” jawab  patung itu  lagi.

“Apa  yang dapat  dilakukan  oleh  burung  kecil seperti  aku ini?” tanya burung.

Patung  itu berbisik, “Di pedangku  ini  menempel  sejumlah mutiara yang mahal  harganya.  Dengan paruhmu  yang  tajam , kau  bisa  mematuknya  sebuah. Kemudian  antarkan  kepada janda tua  itu  supaya  dia dapat  membeli  obat  dan jeruk  untuk anaknya.”

Dengan penuh patuh, burung layang-layang mengabulkan permintaan patung Pangeran, sehingga malam itu patung Pangeran yang budiman tidak menangis lagi.  Demikian  pula pada malam-malam berikutnya. Burung layang-layang  mematuk sebutir  mutiara  dari pedang  patung pangeran budiman, lalu terbang  ke tempat-tempat kaum miskin yang membutuhkan pertolongan. Sehingga  kemiskinan  semakin berkurang.

Ekonomi  Islam: Bebaskan  Manusia   dari   Kelaparan  dan  Perbudakan

Kisah  burung  layang-layang   dan  patung  Pangeran  itu  menggambarkan  perlunya  kerjasama  untuk membebaskan manusia  dari  kelaparan. Sehingga  perbudakan  dapat  sirna  dari  muka  bumi  ini. Jadi  itulah  tujuan  ekonomi Islam: membebaskan manusia  dari  perbudakan  dan  kelaparan. Sungguh  itu   adalah   suatu  tugas  yang  amat   berat   yang  harus  dijalankan   dengan  penuh  kesabaran  dan  kasih  sayang. Oleh karenanya,  jarang   sekali  manusia yang hendak  menjalankannya.  Padahal  Allah  berfirman dalam surat Al Balad ayat 10 – 18, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua  jalan.  Maka tidakkah sebaiknya dia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan  manusia  dari perbudakan,  atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.  Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih  sayang.  Mereka itu  adalah golongan kanan.”

Karena beratnya tugas  itu, maka  untuk meringankan  tugas  kita  agar  kelaparan  dan perbudakan dapat  hilang, Allah menyuruh  kita  berjuang  secara  bersama-sama  atau  berjama’ah.  Karena  tangan  Allah  berada  di atas   jama’ah,  maka  Allah  memotivasi  kita  agar  mau  berjuang  berjama’ah sehingga terkoordinasi  secara  rapih.  Allah  berfirman dalam surat Al Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Di surat Ash Shaf ayat 4, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Perbudakan, Kemiskinan, dan Penyebabnya

Perbudakan  adalah  perbuatan  seseorang  atau sekelompok  orang  kepada seorang  atau sekelompok  orang  lainnya yang kurang menyenangkan, sehingga  menyebabkan  seseorang  menjadi  tidak  merdeka dalam  menentukan  jalan  hidupnya. Dia berada di bawah kekuasaan  orang atau kelompok lain yang  umumnya  dapat  berbuat  semena-mena lantaran dirinya  dianggap  sudah  menjadi  milik  orang  itu.

Banyak sebab yang menyebabkan terjadinya  perbudakan,  seperti  lahirnya  tawanan  akibat  kalah  dalam  berperang atau  penculikan. Tidak hanya itu saja. Penjualan anak-anak yang menjadi tanggungan orang tuanya pun, dapat  melahirkan  terjadinya perbudakan. Bahkan sebagian dari mereka menganggap para petani sebagai budak belian.

Adapun  kata  “miskin”  berasal  dari   bahasa  Arab  yang   menyatakan  kefakiran  yang  amat  sangat.  Allah  menggunakan istilah  itu  dalam  firman-Nya dalam surat Al Balad ayat 16, “Atau orang miskin yang sangat fakir.”

Sedangkan kata   fakir  berasal   dari  kata  al-faqru   yang  berarti   membutuhkan   (al-ihtiyaaj).    Allah  berfirman dalam surat Al Qashash ayat 24, “… lalu  dia  berdoa, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya  aku  sangat  membutuhkan  suatu  kebaikan  yang  Engkau turunkan kepadaku.’”

Syekh An-Nabhani menyatakan bahwa orang  fakir adalah  orang  yang mempunyai harta (uang), tetapi  hartanya  itu  tidak  mencukupi kebutuhan pembelanjaannya  sehari-hari. Sedangkan   orang  miskin  adalah  orang  yang  tidak   mempunyai harta (uang), sekaligus tidak mempunyai penghasilan (Nidzamul Iqtishadi fil Islam, halaman. 236, Darul Ummah-Beirut). Pembedaan kategori ini tepat untuk menjelaskan pengertian dua pos mustahiq zakat, yakni al-fuqara (orang-orang faqir) dan al-masakiin (orang-orang miskin), sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 60 (HTI,  Syariat Islam Menyelesaikan Kemiskinan, Lajnah Mashlahiyah HTI).

HTI menyatakan,  Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah tidak terpenuhinya kebutuhan primer  seseorang.  Kebutuhan primer itu  adalah kebutuhan  sandang, pangan,  dan   papan. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 233, “Kewajiban ayah adalah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” Di surat Ath Thalaaq ayat 6 Allah berfirman, “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuanmu.”

Rasulullah bersabda, “Ingatlah, bahwa ada  hak mereka (istri)  atas kalian yakni agar kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan.” (HR Ibnu Majah)

Namun pengertian  orang yang  miskin bukanlah orang yang suka  berkeliling meminta-minta kepada manusia  seperti   digambarkan oleh Rasulullah, “(Orang  miskin)  bukanlah orang yang suka  berkeliling meminta-minta kepada manusia, lalu ia diberikan sesuap, dua suap, sebuah dan dua buah kurma. Para sahabat bertanya, ‘Kalau begitu, siapakah orang miskin itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah bersabda, ‘Orang (miskin  adalah orang)  yang (sudah  berusaha  bekerja, tetapi) dia tidak menemukan harta yang mencukupinya tapi orang-orang tidak tahu, lalu dia   memperoleh  sedekah tanpa meminta sesuatu pun kepada manusia.’” (HR. Muslim)

Alhumami (2009)  menyatakan, “Banyak ragam pendapat mengenai sebab-sebab kemiskinan. Namun, secara garis besar dapat dikatakan ada tiga sebab utama kemiskinan. Pertama, kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang, misalnya cacat mental atau fisik, usia lanjut sehingga tidak mampu bekerja, atau sebab lainnya. Kedua, kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber  daya  manusia (SDM) akibat kultur dan  pemahaman  masyarakat tertentu, misalnya karena malas, tidak produktif, bergantung pada harta warisan, dan lain-lain. Ketiga, kemiskinan stuktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kesalahan sistem yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat.

Dari tiga sebab utama tersebut, yang paling besar pengaruhnya adalah kemiskinan stuktural. Sebab, dampak kemiskinan yang ditimbulkan bisa sangat luas dalam masyarakat. Kemiskinan jenis inilah yang menggejala di berbagai negara dewasa ini. Tidak hanya di negara-negara berkembang saja, tetapi juga di negara-negara maju.  Kesalahan negara dalam mengatur urusan rakyat, menghasilkan kemiskinan struktural (Alhumami   A., Menggugat Makna Kemiskinan,  Kompas,  Kamis, 15 Oktober 2009).   Hal   ini  mengingatkan  kita   akan  firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan (sistem yang dibuat)  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Apakah  jalan  yang  benar   yang dimaksudkan  ayat  di atas?  Itulah membebaskan manusia dari  perbudakan  dan  kelaparan yang didasarkan  pada kesabaran dan kasih sayang   seperti   dijelaskan  di surat   Al Balad   ayat  10  hingga  18  di atas.

Penutup

Tugas  ekonomi Islam  adalah  membebaskan  manusia   dari   kelaparan  dan  perbudakan.  Sungguh  itu  adalah  suatu  tugas  yang berat yang harus  kita  jalankan  bersama-sama dengan  penuh kesabaran  dan kasih sayang.

Namun  kelaparan  dan  perbudakan  dapat  terjadi   karena  adanya  kemiskinan. Sedangkan  kemiskinan  dapat  terjadi  antara  lain  akibat   distribusi  kekayaan di antara  manusia yang  tidak merata. Oleh  karena  itu, Islam  mengajarkan  kita  agar  kekayaan  itu  diputar  dan jangan  hanya  beredar  pada  sekelompok  orang saja.  Allah  berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 7, ”Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

Semoga kita termasuk hamba Allah yang  mau  menegakkan  ekonomi  Islam,  dengan  memilih  jalan  mendaki  lagi sukar, yakni membebaskan manusia  dari perbudakan dan kelaparan.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.